-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Konsumsi Protein Hewani, Rendah

Rabu, 12 November 2025 | November 12, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-13T07:45:51Z

KORAN - PIKIRAN RAKYAT - Guru Besar di bidang Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB University, Ali Khomsan, menyoroti masih rendahnya tingkat konsumsi protein hewani di masyara­kat Indonesia. Ia menyebut hal ini sebagai salah satu pe­n­ye­bab utama masih ting­gi­nya angka stunting dan ma­salah gizi pada anak-anak.

“Masalah stunting yang ma­sih terjadi pada balita dan anak usia sekolah antara lain disebabkan oleh rendahnya konsumsi protein, terutama yang berasal dari pangan he­wani, seperti susu, daging, dan ikan,” ujar Ali, Selasa 11 November 2025.

Menurutnya, meskipun pro­­tein dapat diperoleh dari berbagai sumber, kualitas protein hewani jauh lebih tinggi dalam mendukung pem­bentukan sel dan ja­ring­an tubuh anak. “Kalau kita melihat data, konsumsi susu, daging dan ikan di Indonesia masih rendah. Padahal kekurangan protein akan berdam­pak langsung terhadap pertumbuhan anak,” katanya.

Rendahnya asupan protein hewani juga berimplikasi pada kualitas sumber daya ma­nusia di masa depan. Ali me­ngingatkan, jika persoalan ini tidak segera diatasi, maka a­kan berpengaruh terhadap daya saing bangsa. “Protein adalah fondasi utama pembentukan otak dan otot. Ke­kurangannya bisa menurun­kan kemampuan belajar ­a­nak,” katanya.

Ia menilai, perlu adanya ke­bijakan lebih kuat untuk memperbaiki pola konsumsi masyarakat. Salah satunya de­­ngan memperluas akses terhadap bahan pangan he­wani yang terjangkau. “Harga pangan hewani, seperti da­­ging dan susu, masih menjadi hambatan bagi sebagian besar keluarga di Indonesia,” ujarnya.

Meski begitu, Ali mengakui bahwa sumber protein nabati seperti tahu dan tempe me­miliki peran penting dalam menopang gizi masyarakat. “Kedelai yang diolah menjadi tahu dan tempe adalah sumber protein nabati yang digemari masyarakat. Ini kebe­runtungan bagi kita karena harganya relatif lebih murah dibandingkan protein he­wa­ni,” ucapnya.

Namun, ia menekankan, ku­alitas protein nabati tetap tidak dapat menggantikan pro­tein hewani sepenuhnya. “Tahu dan tempe bagus, te­tapi kandungan asam amino­nya tidak bisa disamakan de­ngan protein hewani, seperti daging atau susu. Idealnya, keduanya dikonsumsi ber­gan­ti­an agar asupan protein tetap seimbang,” katanya.

Sebagai alternatif, susu ke­delai disebut bisa menjadi solusi bagi anak-anak yang ­a­ler­gi terhadap susu sapi. “Da­lam kasus tertentu, susu protein nabati seperti susu kedelai bisa menjadi alternatif yang baik,” kata Ali.

Ali juga mengingatkan pentingnya melestarikan ke­arifan lokal terkait pola ma­kan masyarakat Indonesia. “Tempe adalah makanan fermentasi yang bergizi, murah dan relevan untuk masya­ra­kat kita. Tradisi konsumsi tempe dan tahu harus diles­ta­rikan sebagai bagian dari pola makan bangsa,” ujarnya. ***

×
Berita Terbaru Update