-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Keruntuhan Ekosistem makin Nyata, Kerusakan Terumbu Karang Sulit Pulih karena Pemanasan Global

Selasa, 14 Oktober 2025 | Oktober 14, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-14T10:25:46Z

, JAKARTA — Alarm keruntuhan ekosistem akibat perubahan iklim kini kian nyata setelah laporan terbaru mengungkap bahwa salah satu batas kritis lingkungan telah terlampaui lebih cepat dari perkiraan.

Laporan Global Tipping Points yang disusun oleh 160 peneliti dari berbagai negara menyebutkan bahwa ekosistem terumbu karang dunia kini berada pada kondisi rusak parah dan hampir mustahil untuk dipulihkan. Hal ini menandai kondisi yang disebut sebagai ‘titik kritis’ pertama dalam keruntuhan ekosistem akibat iklim.

Dalam laporan itu, para ilmuwan juga memperingatkan bahwa sistem hutan hujan kini berisiko mengalami keruntuhan total apabila suhu rata-rata global meningkat melampaui 1,5 derajat Celsius dengan tingkat deforestasi saat ini. Ambang batas itu direvisi menjadi lebih rendah dari estimasi sebelumnya yang ditetapkan untuk hutan Amazon.

Ancaman lain yang turut menjadi perhatian adalah potensi gangguan pada arus laut utama Atlantik, yakni Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC), yang selama ini berperan menjaga musim dingin tetap hangat di Eropa utara.

“Perubahan sedang terjadi dengan sangat cepat sekarang, dan sayangnya, di berbagai bagian iklim dan biosfer,” ujar Tim Lenton, ilmuwan lingkungan dari University of Exeter sekaligus penulis utama laporan tersebut, dikutip dari Reuters , Senin (13/10/2025).

Para ilmuwan pun mendesak negara-negara yang akan menghadiri konferensi iklim COP30 di Brasil pada November 2025 untuk mempercepat pengurangan emisi karbon penyebab pemanasan global.

Mereka mengaku terkejut dengan kecepatan perubahan yang terjadi di alam, mengingat suhu rata-rata global kini telah meningkat 1,3–1,4 derajat Celsius di atas rata-rata praindustri menurut data dari badan ilmiah PBB dan Uni Eropa.

Dua tahun terakhir tercatat sebagai periode terpanas dalam sejarah Bumi, dengan gelombang panas laut yang menyebabkan 84% terumbu karang dunia mengalami pemutihan, bahkan sebagian besar mati. Padahal, terumbu karang menopang sekitar seperempat kehidupan laut di dunia.

Agar terumbu karang dapat pulih, para ilmuwan menegaskan bahwa dunia harus menurunkan suhu global hingga kembali ke sekitar 1 derajat Celsius di atas level praindustri melalui tindakan iklim yang jauh lebih ambisius.

Meski begitu, Lenton mencatat adanya tanda-tanda positif dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang menjadi penyebab utama krisis iklim. Energi terbarukan, untuk pertama kalinya tahun ini, menghasilkan listrik lebih banyak daripada batu bara, menurut data lembaga kajian nonprofit Ember.

“Kita tidak boleh hanya merasa trauma dan tidak berdaya. Kita masih punya kendali atas masa depan kita,” tambahnya.

Dengan mengacu pada kebijakan nasional yang kini berlaku, dunia masih berada di jalur menuju pemanasan global sekitar 3,1 derajat Celsius pada akhir abad ini. Angka tersebut berada jauh di atas batas aman yang disepakati dalam Perjanjian Paris.

×
Berita Terbaru Update