PR JABAR – Pusat Kolaborasi Riset Kecerdasan Artifisial & Keamanan Siber (AISX) ITB bersama Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas (SCCIC) ITB kembali meneguhkan langkah strategisnya dalam menghadapi perkembangan teknologi global dengan menyelenggarakan National AI Initiative Forum 2025: AI untuk Prakarsa Indonesia Cerdas di Aula Barat dan Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB).
Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri, hingga komunitas untuk membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara etis, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Refleksi perjalanan Indonesia dalam mengembangkan konsep Smart City sejak 2015 menegaskan bahwa era berikutnya adalah era berbasis AI.
AI bukan dipandang sebagai pengganti manusia, melainkan enabler untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Strategi nasional AI pun dibangun di atas tiga pilar utama: membangun ekosistem, memastikan implementasi nyata, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Forum yang diselenggarakan pada 4 September 2025 ini resmi dibuka oleh Kepala SCCIC ITB, Prof. Suhono Harso Supangkat. Ia menegaskan bahwa forum ini bukan hanya forum akademik, melainkan ruang bersama untuk mempertemukan ide, riset, dan kepentingan nyata di masyarakat.
“Indonesia harus bergerak dari sekadar pengguna menjadi produsen pengetahuan dan inovasi berbasis AI. Dengan kolaborasi lintas sektor, kita bisa memastikan teknologi benar-benar memberi manfaat bagi bangsa,” ujarnya.
Sebagai forum nasional, acara ini menghadirkan berbagai narasumber kunci dari kementerian,
lembaga, perguruan tinggi, BUMN, hingga industri teknologi. Di antaranya adalah Edwin Hidayat
Abdullah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital (Komdigi); Aries Kusdaryono, Direktur Strategi
dan Kebijakan Teknologi Pemerintah Digital, Komdigi; Achmad Rinaldi Hidayat, Direktur
Teknologi Informasi BP Tapera; Kuswara, S.T., M.A., Direktur Bina Teknik Bangunan Gedung dan
Penyehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Cipta Karya; Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc.,
Ph.D.
Hadir juga Direktur Utama BPJS Kesehatan; Abdul Aziz, S.ST., M.Tr.IP., Analis Kebijakan Ahli Madya
Penanggung Jawab Urusan Kominfo, Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri; Agus
Susanto Rukka, IT Development PT KAI (Persero); Gidion Suranta Barus, Chief Cloud Officer
Lintasarta; Yetty Endarwati, Senior Project Manager Digitalisasi & Data Science Pupuk
Indonesia; Remi Harimanda, Direktur Technical PT Ormat Geothermal; Arif Wiriadinata,
Manager IT Infrastructure; Yoke Susatyo, S.T., EMBA, SVP Enterprise IT PT Pertamina (Persero);
serta Rendra Utama, VP Digital Transformation SKK Migas.
Seluruh narasumber tersebut membawakan materi sesuai dengan bidang keahliannya, yang
dikelompokkan ke dalam sembilan subtema utama: AI for Smart Government, AI for Resilient,
Smart, and Sustainable Cities, AI for Smart Mobility, AI for Smart Industry: Mining, Oil and
Gas, AI for Food Safety and Security, AI for Smart Healthcare & Environment, Infrastructure, Data and AI, AI for Smart Building, Energy, Water, and Infrastructure, serta AI for Smart Finance.
Para pembicara tersebut membahas isu-isu strategis lintas sektor, mulai dari pemerintahan
digital, kota cerdas, perumahan rakyat, kesehatan lingkungan, energi, infrastruktur, transportasi,
logistik, hingga transformasi finansial. Diskusi lintas disiplin ini memberikan wawasan baru
mengenai pentingnya tata kelola data yang kuat, peningkatan kapasitas SDM, serta adopsi
teknologi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“AI akan menjadi pendorong signifikan pertumbuhan ekonomi. Kontribusinya terhadap PDB Indonesia pada 2030 diperkirakan mencapai 2,83% hingga 3,67%. Namun, tantangan kita adalah keterbatasan SDM, kualitas data, serta keamanan siber,” tegas Edwin Hidayat Abdullah.
Dalam berbagai sesi, terungkap bahwa AI berpotensi besar untuk menghadirkan transformasi
nyata di sektor publik dan industri. Mulai dari penerapan predictive maintenance di
perkeretaapian, digital twin platform untuk infrastruktur kota, analisis spasial untuk
perumahan rakyat, hingga pengembangan AI First Banking dan Central Bank Digital Currency
(CBDC) di sektor keuangan.
Forum ditutup dengan penegasan bahwa AI dalam semua sektor mulai dari pemerintahan, kota, energi,
mobilitas, hingga finansial harus dilandasi prinsip etika, keberlanjutan, dan kolaborasi lintas
sektor.
“National AI Initiative Forum ini bukan hanya ajang diskusi, tetapi katalisator kolaborasi.
Kita ingin AI benar-benar hadir untuk tata kelola cerdas, pembangunan berkelanjutan, dan
kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia,” pungkas moderator acara.
Sebagai tindak lanjut, forum ini merekomendasikan beberapa langkah strategis: (1)
memperkuat tata kelola data nasional yang aman dan terintegrasi, (2) mempercepat
pembangunan kapasitas SDM di bidang AI melalui pendidikan dan pelatihan, (3)
mendorong proyek percontohan lintas sektor untuk membuktikan implementasi nyata AI,
(4) memperluas kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas, serta
(5) memastikan seluruh pengembangan dan pemanfaatan AI berjalan sesuai prinsip etika
dan keberlanjutan.
Dengan seluruh sesi yang kaya perspektif dan strategi, National AI Initiative Forum 2025 menjadi
langkah nyata menuju Indonesia cerdas berbasis AI. Hasil forum ini diharapkan dapat
mempercepat transformasi digital nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam
percaturan global teknologi kecerdasan buatan.
Penyelenggaraan forum ini turut didukung oleh berbagai mitra strategis, antara lain Kazee, PT
Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Ormat, PT ACA Pacific, PT Pertamina Hulu
Energi, Telkomsel, PT PLN (Persero), KAI, Extrana Cable, PT Chint Indonesia, Harita Nickel,
Telkom, Pupuk Indonesia, Navicom, PT Duta Listrik, Himpunan Ahli Elektro Indonesia, dan
Lintasarta.
Dukungan ini menunjukkan kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat
pemanfaatan AI untuk pembangunan Indonesia yang lebih cerdas dan berdaya saing.***