, JAKARTA — Lenovo , perusahaan teknologi asal China, berkomitmen memperkuat kehadirannya di Indonesia melalui strategi investasi jangka pendek, menengah, dan panjang yang menyasar percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI), pembangunan ekosistem digital, serta keberlanjutan.
Executive Director CAP & ANZ Infrastructure Solutions Group (ISG) Lenovo Kumar Mitra mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam transformasi digital, khususnya di sektor yang mengandalkan adaptasi AI untuk mendorong efisiensi bisnis.
Pendekatan investasi Lenovo tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga pada kepercayaan jangka panjang, peningkatan keterampilan, serta kontribusi terhadap target ekonomi digital nasional.
Dalam rencana investasi jangka pendek, Lenovo menekankan percepatan implementasi AI melalui solusi AI Fast Start, sebuah program yang memungkinkan perusahaan memulai proyek AI secara cepat dengan biaya lebih efisien, sekaligus memberikan hasil nyata yang bisa ditingkatkan skalanya seiring waktu.
“Kami ingin membantu perusahaan di Indonesia agar tidak ragu memulai perjalanan AI. AI Fast Start memberikan fondasi yang tepat tanpa proses yang kompleks,” kata Kumar kepada Bisnis, Senin (22/9/2025).
Sementara itu untuk rencana jangka menengah, Lenovo akan memperkuat kolaborasi dengan mitra lokal, termasuk Independent Software Vendor (ISV), system integrator, dan penyedia layanan cloud. Strategi ini dirancang untuk memperluas profesional services Lenovo serta mendukung inisiatif alih keterampilan tenaga kerja Indonesia agar lebih siap menghadapi tren AI.
Kumar menambahkan salah satu faktor penting yang ditawarkan Lenovo adalah model konsumsi fleksibel melalui platform TruScale. Dengan sistem ini, perusahaan dapat mengakses infrastruktur dan kemampuan AI sesuai kebutuhan tanpa harus mengeluarkan investasi awal yang besar, sesuatu yang kerap menjadi hambatan utama bagi bisnis menengah di Indonesia.
Ke depan, Lenovo menegaskan akan terus memperluas portofolio yang mencakup PC, infrastruktur, komputasi edge, hingga high-performance computing (HPC). Dimensi keberlanjutan juga menjadi pilar utama dalam strategi jangka panjang Lenovo.
Teknologi pendingin hemat energi Neptune serta praktik ekonomi sirkular diproyeksikan menjadi solusi yang tidak hanya mendukung efisiensi perusahaan, tetapi juga tujuan lingkungan Indonesia yang lebih hijau.
Dengan pendekatan bertahap ini, Lenovo berharap dapat memperkuat posisinya sebagai mitra utama transformasi digital Indonesia, sekaligus mendorong adopsi AI dan keberlanjutan yang sejalan dengan agenda pemerintah maupun kebutuhan industri.
“Bagi Lenovo, Indonesia adalah pasar strategis. Kami tidak hanya ingin menghadirkan teknologi, tetapi juga membangun kepercayaan, memastikan keberlanjutan, dan mendukung visi ekonomi digital nasional,” kata Kumar.
Kumar mengatakan berdasarkan studi Lenovo bersama IDC, 65% organisasi di Indonesia memprioritaskan model hybrid atau on-prem untuk beban kerja AI, karena faktor keamanan data, latensi, dan kepatuhan. Di Indoneisa, lanjutnya, kebutuhan ini semakin relevan mengingat transformasi digital yang cepat di sektor perbankan, manufaktur, hingga ritel.
“Lenovo melihat peluang besar untuk membantu perusahaan membangun fondasi AI yang kuat mulai dari data management, governance, hingga infrastruktur digital yang andal,” kata Kumar.
Hambatan AI di Indonesia ...
Tantangan
Kumar juga mengatakan adopsi AI di kawasan Asean, termasuk Indonesia, masih menghadapi berbagai hambatan mendasar meski tren transformasi digital terus meningkat pesat.
Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa 47% organisasi di kawasan ini masih berada pada tahap awal, yakni sebatas mengevaluasi atau merencanakan implementasi AI dalam operasional mereka.
Kumar menegaskan bahwa tantangan terbesar terletak pada upaya membuktikan return on investment (ROI) dari penerapan AI.
“Banyak perusahaan melihat potensi besar, tetapi ketika ditanya dampak finansial yang nyata, mereka seringkali belum bisa mengukurnya secara jelas. ROI yang terukur adalah faktor kunci untuk mempercepat adopsi teknologi ini,” ujarnya.
Selain soal ROI, keterbatasan talenta di bidang AI juga menjadi masalah krusial. Riset menunjukkan bahwa kawasan ini masih kekurangan tenaga ahli yang mampu mengintegrasikan dan mengelola solusi AI secara efektif.
Tantangan lain adalah pengelolaan data dan kebutuhan akan keamanan yang lebih solid, mengingat ancaman siber terus meningkat seiring digitalisasi.
Dari sisi regulasi dan tata kelola, kondisi juga belum ideal. Data menunjukkan hanya 24% Chief Information Officer (CIO) di Asean yang sudah sepenuhnya menerapkan kerangka kerja AI Governance, Risk, and Compliance (GRC).
Angka ini menyoroti jurang antara potensi AI dengan kesiapan perusahaan dalam mengadopsinya secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Kepercayaan menjadi kunci, AI hanya bisa memberikan manfaat maksimal jika diluncurkan dengan fondasi tata kelola yang baik, infrastruktur yang aman, serta pendekatan etis yang bisa diterima semua pihak," kata Kumar.
Lenovo sendiri mendorong solusi terpadu dengan menghadirkan infrastruktur AI yang tangguh serta layanan yang mudah diakses oleh bisnis dari berbagai skala, termasuk usaha kecil dan menengah.