JAKARTA, – Puluhan tahun lamanya, lokalisasi Kramat Tunggak di Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, menjadi simbol kelam kehidupan malam ibu kota.
Namun, pada 1999 masa kejayaan kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara itu resmi runtuh, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi Jakarta Islamic Center (JIC) pada 2003.
“Bisa saya klaim, Kramat Tunggak adalah satu-satunya di dunia, tempat haramjadah berubah menjadi tempat gelar sajadah,” ujar mantan Gubernur Jakarta ke-12, Sutiyoso, saat berbincang dengan di Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu, Kamis (21/8/2025).
Bang Yos, sapaan akrabnya, mengenang perjalanan panjang hingga akhirnya Kramat Tunggak ditutup.
Kawasan ini awalnya diresmikan sebagai lokalisasi pada era Gubernur Ali Sadikin di 1970-an. Saat itu, keberadaan para pekerja seks komersial (PSK) yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta dinilai meresahkan.
Ali Sadikin memilih mengonsentrasikan mereka di satu titik, yaitu Kramat Tunggak. Tujuannya, agar aktivitas prostitusi tak menyebar ke mana-mana.
Sejak itu, lokalisasi ini hidup selama 29 tahun, melibatkan ribuan PSK, warga sekitar, hingga preman yang menjaga kawasan.
Namun, seiring waktu, protes warga semakin keras. Anak-anak disebut kerap menyaksikan pemandangan tak pantas di jalanan.
Namun, tak ada gubernur setelah Ali Sadikin yang berani menutup lokalisasi itu karena takut bentrokan dengan para preman.
Perjuangan Sutiyoso tutup Kramat Tunggak
Pada 1998, desakan warga agar Kramat Tunggak ditutup semakin besar. Sutiyoso tidak gegabah. Ia memilih mendekati para PSK lebih dulu.
“Aku tanya, kenapa mau menjual diri? Mereka bilang ‘terpaksa’. Kalau ada pekerjaan lain, mereka akan tinggalkan (prostitusi),” kata Sutiyoso.
Ia kemudian menawarkan berbagai pelatihan keterampilan, mulai dari menjahit, tata boga, hingga kecantikan, agar para PSK punya pegangan baru setelah lokalisasi ditutup.
Tak berhenti di situ, Sutiyoso menggandeng ulama populer saat itu, KH Zainuddin MZ, untuk memberikan ceramah rutin kepada para PSK.
“Saya bilang ke beliau, ‘tolong yakinkan mereka, kalau ikut Bang Yos ke kanan surga, kalau tetap begini neraka’,” ujar Sutiyoso.
Setahun penuh proses pendekatan itu berjalan. Hingga akhirnya, pada 1999, para PSK sendiri yang sepakat untuk meninggalkan Kramat Tunggak.
“Ketika ditutup, mereka justru menangis bahagia. Mereka merangkul saya sambil terharu,” kenang Sutiyoso.
Dari Lokalisasi jadi Jakarta Islamic Center
Pasca penutupan, Sutiyoso menghadapi dilema. Dia sempat kebingungan akan dijadikan apa lahan bekasi lokalisasi seluas tiga hektare itu.
“Pas saya umroh, saya minta petunjuk Allah. Saya pikir, Jakarta mayoritas muslim tapi belum punya Islamic Center,” kata dia.
Ide tersebut sempat membuatnya ragu. Bagaimana jika ulama menolak, mengingat lahan itu dulunya adalah kawasan prostitusi.
Namun keraguan itu pupus setelah ia mengundang para ulama ke Balai Kota Jakarta.
“Dengan deg-degan saya sampaikan ide itu. Ternyata para ulama langsung berdiri dan teriak ‘Allahu Akbar’,” ujar Sutiyoso.
Setelah mendapat restu, Sutiyoso melakukan studi banding ke berbagai negara seperti Mesir, Iran, Inggris, hingga Prancis, untuk merancang pusat pembelajaran Islam modern di Jakarta.
Hasilnya, pada 4 Maret 2003, Jakarta Islamic Center resmi berdiri, lengkap dengan masjid, penginapan, serta fasilitas pembinaan umat.
“Sekarang, dari tempat haram, berubah jadi pusat dakwah. Itu warisan besar buat Jakarta,” kata Sutiyoso menutup cerita.