– Kesadaran tentang pentingnya kesehatan reproduksi semakin mencuat dalam beberapa dekade terakhir. Isu ini bukan hanya perkara medis, melainkan menyangkut hak asasi manusia, terutama bagi perempuan.
Woman Reproductive Health Center (WRHC) hadir sebagai pusat studi dan edukasi yang mendorong agar kesehatan reproduksi dipahami sebagai bagian krusial dalam kehidupan, dengan menekankan prinsip keadilan gender dan tanggung jawab bersama.
Dari Kontrasepsi ke Kesadaran Global
Gagasan kesehatan reproduksi sebagai disiplin ilmu relatif baru. Pada awal 1970-an, dalam sebuah kongres perempuan di Brazilia, diskusi tentang dampak kontrasepsi hormonal seperti pil KB membuka mata banyak pihak.
Saat itu, teknologi pengendali kehamilan memang dianggap revolusioner, namun juga menimbulkan persoalan kesehatan yang lebih luas bagi perempuan. Dari titik itulah, lahir konsep kesehatan reproduksi yang tidak lagi terbatas pada urusan kehamilan, tetapi juga menyangkut kesejahteraan fisik, mental, dan sosial.
Puncak di Kairo 1994
Isu ini mencapai momentum global pada Konferensi Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo 1994, di mana Indonesia turut aktif. Dari pertemuan tersebut lahir definisi komprehensif, kesehatan reproduksi adalah kondisi menyeluruh fisik, mental, dan sosial yang terkait dengan sistem reproduksi, fungsinya, dan prosesnya. Definisi ini juga menegaskan kebebasan individu untuk menentukan kapan, bagaimana, dan seberapa sering bereproduksi.
Menurut Jehannara dari WRHC, poin penting dari kesepakatan Kairo adalah kalimat freely and responsibly bebas, tetapi harus bertanggung jawab.
“Sayangnya, bagian tanggung jawab ini sering dilupakan,” ujarnya.
Prinsip inilah yang melandasi program edukasi WRHC agar setiap orang memahami hak reproduksi bukan sekadar kebebasan, tetapi juga komitmen etis dalam mengambil keputusan.
Hak kesehatan reproduksi mencakup akses terhadap perencanaan keluarga yang aman, pelayanan kehamilan dan persalinan yang selamat, hingga kesehatan seksual yang bebas dari diskriminasi dan kekerasan.
Bagi WRHC, kesehatan seksual bukan hanya soal hubungan intim, melainkan bagaimana individu terbebas dari rasa takut, pemaksaan, dan risiko kehamilan yang tidak diinginkan.
“Setiap anak idealnya lahir karena diinginkan dan direncanakan,” kata Jehannara.***