HARIAN BOGOR RAYA - Masih banyaknya peredaran obat dengan klaim bisa turunkan berat badan, tetapi, sebenarnya tidak jelas kandungannya. Itu jadi pertanda orang ingin jadi langsing secara instan.
Harapannya, penerapan PNPK bisa jadi acuan dan makna obesitas bisa tersampaikan. Juga bisa diterapkan di berbagai wilayah Indonesia dimana angka obesitasnya tinggi.
Indonesia bisa mencontoh negara disiplin kesehatan, seperti Jepang atau Singapura. Kedua negara itu menerapkan prinsip, makan tidak harus sampai kenyang, tapi porsinya cukup.
Orang Asia punya ciri tubuh yang berbeda. Jadi, masyarakat yang tinggal di Indonesia harus tahu indeks massa tubuh (IMT) yang sesuai dengan kriteria ideal.
Lemak di perut ke bawah itu lemak jahat yang merupakan ciri obesitas, kata Maya. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi obesitas sentral (lingkar perut melebihi batas normal) secara nasional 36,8 persen pada penduduk berusia 15 tahun ke atas.
Hal itu dapat berdampak pada munculnya penyakit bawaan, seperti penyakit jantung, gula darah tinggi atau ginjal.
Mitos soal anak yang gemuk itu lucu juga jadi tantangan tersendiri bagi profesi kedokteran agar berupaya menurunkan angka obesitas pada anak dan di atas 15 tahun.
Sebagai Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia, dr. Maya Surjadjaja mengatakan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai makna obesitas jadi tantangan tersendiri dalam implementasi Panduan Nasional Pelayanan Kesehatan (PNPK) untuk obesitas.
“Kita sendiri mungkin enggak yakin bahwa kita ini obesitas. Kita sendiri enggak ngerti, sebetulnya obesitas itu yang (berat badan) seperti apa, sih?" kata Maya yang praktik sebagai dokter spesialis gizi klinik di Rumah Sakit TNI AL, Dr. Mintohardjo.
PDGKI menerbitkan PNPK untuk obesitas yang disahkan oleh Menteri Kesehatan pada 30 Mei 2025.***