PIKIRAN RAKYAT - Kasus bunuh diri menunjukkan tren yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, sepanjang Januari-Oktober angka kasus bunuh diri telah menyentuh angka 1.023 kasus.
Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan (Dirjen Nakes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI priode 2024, Maria Endang Sumiwi, seperti dikutip dari situs Kemenkes, menjelaskan ada banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang melakukan bunuh diri, seperti faktor biologis, genetik, psikologis, budaya, dan lingkungan.
Data Pusat Informasi Kriminal Nasional Polisi Republik Indonesia (Pusdiknas Polri) mengungkapkan, pada Januari-Agustus 2024 terjadi 928 kasus bunuh diri di Indonesia.
Kasus Bunuh Diri di Indonesia Meningkat Tiap tahun
Data pun menunjukan angka kasus bunuh diri terus meningkat setiap tahun, bahkan bertambah hingga 60% dalam lima tahun terakhir.
Sebanyak 714 kasus atau 76,94% bunuh diri dilakukan laki-laki. Sebanyak 171 kasus (18,43%) sisanya adalah perempuan.
Berdasarkan data yang sama juga disebutkan motif bunuh diri paling banyak disebabkan faktor ekonomi (31,79%).
Kemudian, disusul oleh faktor kesengajaan atau dolus (30,82%), permasalahan sosial (16,92%) dan faktor lainnya (20,47%).
Salah satu kasus terbaru terjadi di Purwakarta. Jasad seorang laki-laki muda tanpa identitas menggemparkan warga karena diduga melakukan bunuh diri di perkebunan karet Desa Cijati, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta.
Penemuan jasad kali ini dikonfirmasi Kepala Polisi Resor Purwakarta Ajun Komisaris Besar I Dewa Putu Gede Anom Danujaya. “Hingga kini identitas korban tidak diketahui karena tidak ada tanda pengenal di saku korban,” katanya, Rabu 13 Agustus 2025.
Provinsi Paling Tinggi Kasus Bunuh Diri di Indonesia
Melansir Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia (APBDI), didapatkan data provinsi dengan tingkat bunuh diri tertinggi: Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau.
Sedangkan provinsi dengan tingkat percobaan bunuh diri tertinggi: Sulawesi Barat, Gorontalo, Bengkulu, Sulawesi Utara, diikuti oleh Kepulauan Riau.
Dari data ini menunjukkan bahwa kita membutuhkan pendekatan spesifik provinsi, karena provinsi-provinsi ini berbeda dalam hampir semua hal, termasuk agama utama, industri, geografi, dan kelompok etnis.
Oleh karena itu, pencegahan bunuh diri harus dilakukan di tingkat provinsi untuk efektivitas maksimum.
Adapun metode yang paling sering digunakan untuk bunuh di Indonesia adalah:
1. Gantung Diri
2. Meracuni Diri Sendiri
3. Melompat dari Ketinggian
4. Benda Tajam.
Temuan-temuan menurut APBDI ini konsisten dengan negara agraris yang terletak di iklim tropis.
Perlu dicatat bahwa mungkin ada underreporting kasus bunuh diri yang menggunakan cara lain selain gantung diri, karena jauh lebih mudah disamarkan sebagai kematian non-bunuh diri.
Faktor Umum Penyebab Bunuh diri di Indonesia
Sedangkan faktor utama yang umum menjadi penyebab seseorang nekat melakukan bunuh diri di Indonesia;
1. Keluarga
2. Agama
3. Akses ke perawatan psikologis
Karenanyalah, keluarga memainkan faktor kunci untuk bunuh diri di Indonesia, di mana banyak individu terdorong untuk bunuh diri karena konflik dengan keluarga, tetapi sering kali tidak mencoba bunuh diri karena juga memikirkan keluarga.
Adapun agama juga dapat mencegah seseorang untuk mencoba bunuh diri, tetapi karena takut akan stigma, juga dapat mencegah seseorang untuk mencari bantuan.
Faktor lain termasuk akses ke perawatan psikologis, di mana hanya ada kurang dari 5.000 psikolog dan psikiater untuk seluruh populasi, dengan lebih sedikit lagi yang terlatih dalam pencegahan bunuh diri praktis. ***