Ringkasan Berita:
- Bilqis Ditemukan: Bocah 4 tahun yang sempat hilang dan diduga diculik akhirnya kembali ke keluarga dalam kondisi selamat.
- Suasana Haru: Video perpisahan dengan warga Suku Anak Dalam yang merawatnya viral dan menimbulkan simpati luas.
- Proses Pemulangan: Polisi mendampingi pemulangan serta masih menyelidiki motif dan pihak terkait kasus dugaan penculikan.
- Seorang bocah perempuan berusia empat tahun, Bilqis, yang sempat menghilang dan diduga menjadi korban penculikan di Taman Pakui Sayang beberapa waktu lalu akhirnya kembali ke pelukan keluarga pada Minggu (9/11/2025).
Suasana haru tampa menyelimuti pertemuan itu.
Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, Bilqis tampak menangis sesenggukan sambil memanggil orang tuanya.
Di sekelilingnya, seorang lelaki, seorang perempuan, dan dua anak lainnya yang disebut merupakan warga Suku Anak Dalam (SAD) ikut larut dalam tangis.
Mereka terlihat enggan berpisah dengan bocah kecil itu.
Momen perpisahan tersebut menjadi puncak dari kisah pencarian yang sempat menyita perhatian publik.
Bilqis sebelumnya dinyatakan hilang setelah dilaporkan diculik di kawasan taman kota yang ramai pada akhir Oktober lalu.
Setelah upaya pencarian intensif oleh kepolisian dan warga, Bilqis akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat di wilayah tempat tinggal komunitas Suku Anak Dalam.
Tangisan dalam video menggambarkan ikatan emosional yang sempat terjalin antara Bilqis dan keluarga komunitas tersebut.
Meski bukan keluarga kandungnya, mereka terlihat berat melepas kepergian sang bocah.
Bilqis sendiri tampak kebingungan saat dijemput, namun akhirnya memeluk erat orang tuanya ketika dipertemukan kembali.
Pihak kepolisian memastikan proses pemulangan dilakukan dengan pendampingan petugas dan melibatkan lembaga perlindungan anak.
“Anak sudah dalam kondisi baik dan kini bersama keluarganya. Kami masih mendalami motif dan pihak yang terlibat dalam kasus dugaan penculikan ini,” ujar salah satu pejabat kepolisian setempat.
Sementara itu, keluarga Bilqis menyampaikan rasa syukur mendalam atas kembalinya sang buah hati.
“Kami hanya bisa berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Kami tidak bisa bayangkan kalau anak kami tidak ditemukan,” ujar ayah Bilqis dengan suara bergetar.
Video tangis haru perpisahan tersebut kini viral di berbagai platform media sosial, menimbulkan simpati luas dari masyarakat.
Banyak warganet terenyuh melihat kehangatan antara Bilqis dan keluarga Suku Anak Dalam yang selama beberapa waktu merawatnya.
Kembalinya Bilqis ke pangkuan keluarga menutup bab penuh ketegangan dalam kasus yang mengguncang warga Makassar.
Namun di balik air mata dan rasa lega, kisah ini menyisakan pesan kemanusiaan tentang kasih, kepedulian, dan ikatan yang melampaui batas suku dan darah.
Penyelamatan Dramatis
Kasubnit Jatanras Polrestabes Makassar, Ipda Adi Gaffar, menyebut proses penyelamatan Bilqis berlangsung dramatis.
Pasalnya, warga SAD awalnya enggan melepas Bilqis.
“Sangat alot, karena mereka bertahan. Katanya, anak itu sudah dianggap sebagai anaknya sendiri,”
kata Adi, Selasa (11/11).
Ia menjelaskan bahwa pihaknya sempat berkomunikasi dengan kepala suku atau Tumenggung serta warga SAD lainnya.
Dari hasil pembicaraan itu diketahui bahwa praktik adopsi anak di kalangan Suku Anak Dalam sudah sering terjadi.
“Memang mereka biasa merawat anak-anak yang diadopsi. Kata salah satu tersangka juga, sudah sering membawa anak untuk diadopsi ke suku anak dalam melalui perantara bernama Lina,”
ujarnya.
Adi menambahkan, komunitas SAD biasanya mengadopsi anak untuk memperbaiki keturunan.
“Keterangannya, mereka hanya ingin memperbaiki keturunan. Itu alasan yang disampaikan kepada saya,” ujar Adi.
Polisi mengungkap, pasangan Adit Prayitno Saputra (36) dan Meriana (42), warga Kabupaten Merangin, Jambi, telah beraksi sembilan kali.
Mereka berpura-pura sebagai pasangan suami istri yang telah menikah sembilan tahun namun belum dikaruniai anak.
“Keduanya mengaku telah memperjualbelikan sembilan bayi dan satu anak melalui TikTok dan WhatsApp,” ungkap Adi.
Suku Anak Dalam Diduga Tertipu
Terpisah, Wahida Baharuddin Upa, pendamping hukum masyarakat Suku Anak Dalam, menduga komunitas SAD di Jambi tertipu dalam kasus penculikan Bilqis.
Ia menilai warga SAD tidak mengetahui bahwa anak yang diadopsi merupakan korban penculikan.
“Nah, menurutku begini. Ini seperti sindikat sebenarnya. Tapi kan yang kasihannya adalah orang yang mengadopsi. Tentu saja yang mengadopsi ini saya yakin niatnya adalah kepengin punya anak. Dia pikir mungkin ini adalah cara yang sudah sesuai dengan prosedur hukum. Sebenarnya yang patut dihukum adalah tentu adalah pelaku pertama,” ujar Wahida kepada wartawan usai bertemu BAM DPR RI di Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (12/11/2025).
Wahida berharap pelaku penculikan Bilqis mendapat hukuman setimpal.
“Hukumannya harusnya lebih berat karena ini menyangkut soal hak seorang anak yang kemudian dihilangkan hanya karena adopsi. Hanya karena diculik kemudian diadopsi begitu saja,”
ujarnya.
Sebelumnya, polisi mengungkap Bilqis dijual ke komunitas Suku Anak Dalam di Jambi dengan surat palsu.
Surat tersebut dibuat agar seolah-olah Bilqis diserahkan secara sukarela oleh orang tua kandungnya.
Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Devi Sujana menjelaskan bahwa surat palsu itu dibuat oleh tersangka MA (42) yang menjual Bilqis.
“Karena yang dari sana (suku anak dalam) itu, penerima itu, mereka mengira yang menjual dari sini itu adalah orang tua kandungnya. Jadi, MA ini membuat surat pernyataan yang seolah dari orang tua kandungnya, kalau dia tidak sanggup untuk memelihara anaknya sehingga diserahkan,”
ujar AKBP Devi Sujana kepada wartawan, Senin (10/11/2025).
(*)
Sumber: WartaKotalive.com