Pertemuan ini membahas kemajuan dalam pelaksanaan program-program prioritas nasional di berbagai sektor, sekaligus menjadi kesempatan bagi Presiden untuk secara langsung mengawasi pencapaian dan perkembangan program yang sedang berjalan.
"Hari ini, beberapa menteri, Menko, Gubernur BI, dan Kepala OJK diundang oleh Bapak Presiden untuk berdiskusi mengenai tugas masing-masing. Bapak Presiden ingin memantau dan juga ingin mendengar laporan langsung tentang kemajuan masing-masing bidang," kata Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, kepada para wartawan.
Dalam diskusi tersebut, Kepala BGN melaporkan kepada Presiden tentang kemajuan program makanan bergizi gratis (MBG). Dadan menyatakan bahwa saat ini telah terdaftar sebanyak 13.514 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang telah tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
"Alhamdulillah, hari ini kami telah melaporkan bahwa ada 13.514 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang tersebar di 38 provinsi, 509 kabupaten, dan 7022 kecamatan, yang memiliki potensi untuk melayani 39,5 juta orang. Insyaallah, pada akhir bulan ini kami mungkin sudah dapat melayani hingga 40 juta," tambahnya.
Sementara itu, Dadan mengungkapkan bahwa realisasi anggaran untuk program MBG telah mencapai setengah dari total anggaran yang dialokasikan.
"Hingga saat ini, serapan untuk makanan bergizi telah mencapai 35,6 triliun, yang berarti sudah mencapai 50,1 persen," ujar Dadan.
Kepala BGN juga mengekspresikan keyakinannya terhadap pencapaian target penerima manfaat program MBG pada akhir tahun ini. "Kami akan terus berupaya mencapai target, semoga 82,9 juta penerima manfaat dapat kami layani pada akhir tahun," ujarnya.
Dadan menegaskan bahwa keyakinan ini didasarkan pada pelaksanaan program di lapangan, di mana jumlah SPPG terus meningkat setiap harinya.
"Seperti yang kita ketahui, kami bisa menghasilkan SPPG baru setiap hari sebanyak sekitar 200, dan itu berpotensi untuk melayani 600 ribu penerima manfaat setiap hari. Kami akan bekerja keras dalam dua bulan terakhir ini agar dapat mencapai 82,9 juta. Dan Bapak Presiden akan mengapresiasi hal ini meskipun nantinya akan memahami jika kita hanya dapat mencapai 75 juta," tutupnya. ***