-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pasar Minyak Nabati Berpotensi Bullish 2026 saat Ada Ancaman Kekurangan Pasokan

Sabtu, 15 November 2025 | November 15, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-15T23:20:39Z

, JAKARTA — Pasar minyak nabati global ada dalam bayang-bayang ancaman pasokan yang ketat. Terdapat peluang bullish seiring permintaan untuk kebutuhan pangan dan energi yang meningkat signifikan.

Analis minyak nabati dan Direktur Godrej International Ltd., Dorab Mistry menjelaskan hal tersebut dalam 21 st Indonesian Palm Oil Conference and 2025 Price Outlook (IPOC 2025) yang berlangsung di Bali. Para pelaku industri minyak sawit berkumpul dan mendiskusikan prospek bisnis.

Mistry menyebut bahwa dunia bergerak menuju fase pasokan minyak nabati yang semakin menurun, sementara permintaannya terus meningkat signifikan, baik untuk pangan maupun energi.

"Pasokan global untuk tahun 2026 tidak terlihat aman. Namun, outlook harga 2026 adalah bullish ," ujar Mistry, Jumat (14/11/2025).

Menurutnya, hasil panen yang stagnan, minimnya investasi pertanian, serta melonjaknya kebutuhan biodiesel di Amerika Serikat (AS), Brasil, dan Indonesia akan menciptakan kesenjangan pasokan yang sulit dihindari. Dia mengingatkan bahwa pelaku pasar tidak boleh terjebak oleh koreksi jangka pendek.

"Kita harus melihat gambaran besar," tegasnya.

Dalam konteks ini, lanjut Mistry, Indonesia memegang peran sentral sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia. Mistry menyebut kebijakan pemerintah Indonesia, terutama implementasi B40, rencana peningkatan menuju B45 dan B50, serta mekanisme Domestic Market Obligation (DMO) sebagai faktor yang dapat menggerakkan harga global secara langsung.

"Jika Indonesia membatasi ekspor dengan mengutak-atik DMO, harga minyak sawit akan langsung terbang," ujarnya.

Mistry juga memuji arah kebijakan biodiesel nasional yang dianggapnya semakin stabil dan visioner. Namun, dia juga menyampaikan peringatan strategis.

Menurutnya, percepatan menuju B50 tanpa kesiapan pasokan berisiko menekan ketersediaan dalam negeri.

"Jika kita naik ke B50 lebih awal, maka akan ada kekurangan minyak sawit di Indonesia," ungkapnya.

Meskipun demikian, dia mengapresiasi langkah pemerintah yang berencana membuka izin hingga 600.000 hektar lahan perkebunan baru sebagai langkah penting untuk memperkuat keberlanjutan pasokan jangka panjang.

Mengenai proyeksi harga, Mistry tetap konsisten mempertahankan pandangan optimistisnya. Dia memperkirakan bahwa harga futures CPO akan mendekati 5.000 ringgit per ton pada akhir Desember 2025, dan berpotensi melampaui 5.500 ringgit per ton pada kuartal pertama 2026, terutama ketika produksi sawit diperkirakan mulai melambat.

Mistry menggambarkan pasar saat ini sebagai kondisi yang ' oversold ', yakni harga telah dijual terlalu banyak dan harganya turun terlalu dalam. Alhasil, terdapat ruang besar untuk pemulihan harga seiring perubahan fundamental pasar.

Indonesia dan India Motor Permintaan Minyak Nabati Global

Tidak hanya Indonesia, Mistry juga menyoroti India sebagai motor permintaan global. Dia menyebut Bharat sebagai "harapan pasar dan faktor optimisme bagi minyak sawit dan seluruh minyak nabati."

Dia memproyeksikan total impor sawit di sana menembus 17 juta ton pada 2026, didorong oleh stabilitas konsumsi dan kebijakan tarif yang pro-konsumen.

Situasi geopolitik ikut menambah lapisan kompleksitas. Mistry menilai bahwa kemungkinan gencatan senjata Rusia–Ukraina justru dapat memicu kenaikan harga minyak bunga matahari akibat penguatan mata uang kedua negara.

"Minyak bunga matahari sudah mahal, dan potensi kenaikannya masih besar," katanya.

Hal ini memberi peluang bagi minyak kedelai dan minyak sawit untuk memperluas pangsa pasar secara global.

Dari Amerika Serikat (AS), Mistry menegaskan bahwa kebijakan biodiesel akan menjadi faktor penentu paling signifikan terhadap dinamika harga.

"Kebijakan biodiesel AS akan menjadi penentu harga terbesar pada 2026," ujarnya.

Dorab menyampaikan bahwa 2026 akan menjadi tahun penuh tantangan sekaligus peluang bagi industri minyak nabati global. Dengan risiko cuaca, pertumbuhan agresif sektor biodiesel, serta ketidakpastian produksi, dunia akan menghadapi pasar yang lebih ketat tetapi sarat potensi keuntungan.

"Tahun 2026 adalah tahun bullish . Bersiaplah untuk harga yang lebih tinggi," ujarnya.

×
Berita Terbaru Update