Selama periode tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, badai petir, dan angin kencang yang diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah NTT.
Peringatan ini dikeluarkan menyusul meningkatnya aktivitas atmosfer dan terbentuknya Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia, barat daya Nusa Tenggara Barat.
Fenomena ini berkontribusi pada pertumbuhan awan hujan masif yang memicu cuaca ekstrem di kawasan NTT.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenot’ek, menjelaskan bahwa meskipun beberapa wilayah telah memasuki musim hujan, kondisi atmosfer masih sangat labil.
Suhu muka laut yang hangat, berada di kisaran 29–31°C, turut memperbesar peluang terbentuknya awan konvektif dan hujan intensitas tinggi.
Bibit Siklon 97S tercatat memiliki kecepatan angin maksimum 28 km/jam (±15 knot) dan tekanan minimum 1009 hPa.
Walaupun siklon ini berada di luar wilayah NTT, sistem tersebut tetap memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan awan hujan, hujan deras, hingga potensi cuaca ekstrem lainnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai berbagai ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor—terutama di wilayah bertopografi curam maupun daerah dataran rendah yang rawan genangan.
Potensi gangguan lain seperti pohon tumbang, gelombang tinggi, dan jalan licin juga perlu diantisipasi karena berisiko membahayakan keselamatan.
Terkait ancaman badai petir, Nenot’ek mengingatkan masyarakat agar tidak berada di area terbuka, tidak berteduh di bawah pohon, menjauhi tiang listrik atau benda logam tinggi, serta mematikan perangkat elektronik yang terhubung ke listrik. Langkah ini penting untuk meminimalkan risiko tersambar petir.***