JEMBATAN Hongqi yang membentang sepanjang 758 meter di Provinsi Sinchua, Cina , putus karena bencana tanah bergerak pada Selasa, 11 November 2025. Peristiwa ini menjadi sorotan dunia karena jembatan megah dari beton yang menghubungkan Sinchua dengan pegunungan Tibet itu baru diresmikan dan dioperasikan pada awal tahun ini.
Dari video-videonya yang viral terlihat awan debu raksasa menyelimuti sebagian kaki lereng atau tebing pegunungan di mana satu bagian ujung Jembatan Hongqi berada. Sesaat kemudian jembatan dengan konstruksi yang berdiri setinggi lebih dari 172 meter di atas aliran sungai itu ambruk dan terempas. Jembatan Hongqi putus hingga hampir ke bagian tengahnya.
Banyak yang menengarai runtuhnya jembatan ini tak lepas dari faktor kegagalan konstruksi. Peristiwa runtuhnya Jembatan Hongqi ini memantik kekhawatiran tentang standar konstruksi jangka panjang, khususnya di provinsi di kawasan barat Cina. Sebab di daerah ini dikenal dengan medan yang tidak stabil secara seismik.
Meskipun belum ada bukti cacat konstruksi di Jembatan Hongqi, insiden ini terjadi hanya beberapa bulan setelah peristiwa besar lainnya. Pada Agustus lalu misalnya, sebuah jembatan kereta api yang sedang dibangun di Provinsi Qinghai juga runtuh saat operasi pengencangan kabel, menewaskan sedikitnya 12 pekerja dan menyebabkan empat lainnya hilang.
Mengutip laporan dari Newsweek , kejadian yang beruntun ini menimbulkan persepsi yang lebih luas tentang merosotnya kemampuan Cina dari investasi infrastruktur berskala besar. Beijing yang dulu dikenal menggelontorkan triliunan dolar untuk jalan raya, rel kereta api, dan bandara demi mendorong pertumbuhan, kini menghadapi sorotan tajam atas menurunnya kendali mutu dan pembangunan proyek-proyek di wilayah-wilayah yang secara geologis tidak stabil atau berisiko secara seismik.
Menjawab keresahan itu, para pejabat setempat membantah kalau bencana di Sinchua disebabkan konstruksi yang buruk. Pemerintah Cina menggambarkan kecelakaan semacam itu sebagai kejadian yang terisolasi atau akibat bencana alam seperti tanah longsor dan banjir bandang.
Disampaikan pula tidak ada korban dari kejadian di Sinchua karena k epolisian setempat telah menutup jembatan itu sejak Senin malam sebelumnya. Penutupan menyusul kemunculan retak pada tebing dan jalan dekat jembatan itu pada siang harinya. Saat itu juga terlihat pergerakan tanah di lereng pegunungan.
Seluruh kendaraan yang sempat terdampak dan terjebak dinyatakan sudah dievakuasi. China Daily melaporkan peringatan dan larangan melintasi jembatan lalu dikeluarkan menjelang tengah malam. Pada Selasa siang, kondisi di lereng disebutkan memburuk memicu longsor yang akhirnya menuntun kepada runtuhnya jembatan di sana.
Jembatan Hongqi berlokasi dekat proyek PLTA Shuangjiangkou, salah satu bendungan di aliran Sungai Daduhe. South China Morning Post memberitakan sebelumnya kalau proyek itu akan menjadi dam tertinggi di dunia nantinya, 132 meter, setelah proses pengisian air yang telah dimulai pada 1 Mei lalu rampung.