-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Era Baru Trail Running di Indonesia, Votcha 2025 Sukses Diikuti Ribuan Peserta

Rabu, 05 November 2025 | November 05, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-07T10:10:45Z

Gunung Tangkuban Perahu menjadi saksi lahirnya era baru trail running di Indonesia.

Ajang Volcano Trail Championship (Votcha) 2025 dengan tema besar "Adventures in The Ring of Fire' dan tagline "Santai tapi Sampai" resmi menutup babak perdananya pada 1–2 November 2025 di kawasan Asstro Highland Ciater, kaki Gunung Tangkuban Perahu, Jawa Barat.

Sebanyak 1.228 peserta dari 11 negara yaitu Indonesia, Korea Utara, Taiwan, Jerman, Jepang, Prancis, Republik Ceko, Australia, Malaysia, Singapura, dan India berlari menembus kabut, badai, dan hujan deras untuk merayakan semangat keberanian, kebersamaan, dan cinta pada alam.

Dalam dua hari penyelenggaraan, Votcha membuktikan diri bukan sekadar lomba tetapi juga gerakan spiritual dan sosial yang menyalakan kembali hubungan manusia dengan alam di jantung Ring of Fire.

Hujan deras, kabut tebal, dan suhu yang jatuh hingga 14 derajat Celcius tidak menghentikan semangat para pelari dari berbagai penjuru dunia untuk menapaki jalur vulkanik Gunung Tangkuban Perahu.

Kawasan Asstro Highland Ciater, Jawa Barat, berubah menjadi lautan energi, tawa, dan semangat dalam ajang Votcha 2025 edisi perdana dari sebuah gerakan baru di dunia trail running Indonesia.

Mereka berlari menembus badai dan tanah vulkanik yang licin untuk membawa pulang lebih dari sekadar medali.

"Kita tidak melawan gunung, kita berdamai dengannya," ujar Rahman Mukhlis, Race Director Votcha 2025, di garis finis sambil menatap kabut yang menyelimuti Asstro Highland.

"Bagi kami, setiap langkah pelari adalah doa kecil di tengah energi bumi yang luar biasa."

Diinisator oleh Main Outdoor, Votcha menjadi signature baru di dunia trail run Indonesia.

Votcha diselenggarakan oleh Main Outdoor x Kawani sebagai ajang trail run berskala internasional yang menggabungkan olahraga, eksplorasi, dan pelestarian alam.

Berkolaborasi dengan Asstro Highland dan Arei Outdoor Gear, Votcha hadir untuk menyatukan olahraga, alam, dan budaya lokal dalam satu semangat: berlari di lintasan gunung api.

"Di tengah dunia yang serbacepat dan digital, manusia mulai kehilangan hubungan spiritual dengan alam. Votcha ingin mengembalikan hal itu," kata Nur Wahyu Widayatno, Chairman of Votcha.

"'Santai tapi Sampai' bukan sekadar slogan, itu filosofi hidup. Bahwa dalam perjalanan menuju puncak atau tujuan, yang penting bukan hanya tiba, tetapi juga bagaimana kita menikmatinya."

Gunung Tangkuban Perahu, yang sarat dengan kisah legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi, menjadi panggung alami bagi para pelari.

Jalur sepanjang lebih dari 40 kilometer ini menembus hutan pinus Perhutani, kebun teh Ciater, dan kawah aktif Tangkuban Perahu, berpadu antara bahaya dan keindahan.

Legenda Sangkuriang yang gagal menyelesaikan perahunya sebelum waktu habis menjadi simbol unik bagi pelari di mana mereka pun harus menyelesaikan lomba sebelum cut of time berakhir.

"Saya merasa seperti berlari di antara dua dunia," kata Wira, pelari 25K asal Bandung. "Di satu sisi ada ketakutan, di sisi lain ada kedamaian luar biasa."

Start dan finis berpusat di Asstro Highland Ciater, kawasan wisata dengan lanskap vulkanik yang menakjubkan dan fasilitas yang lengkap.

Di sinilah ribuan pelari bersiap, sebagian gugup, sebagian mengalami euforia, sebelum akhirnya hujan mengguyur deras dan kejuaraan dimulai.

Pukul 1 siang pada 2 November 2025 setelah semua melakukan flag off, cuaca berubah drastis.

Hujan lebat mengguyur race village Votcha.

Namun para peserta justru menyambutnya dengan sorakan dan tawa.

Di tengah lintasan yang licin, banyak pelari tergelincir tetapi semua saling bantu, sesuatu yang menjadi ciri khas dunia trail: tolong menolong.

"Saya jatuh tiga kali tetapi selalu ada yang bantu. Ini bukan kejuaraan melawan orang lain, ini lomba melawan diri sendiri," ujar Ocha Nugraha, pelari 10K dari Jakarta. "Di sini, semua orang saling dorong, saling sapa, bahkan di tengah hujan badai."

Votcha 2025 menghadirkan lima kategori utama yang penuh karakter kekinian yaitu Kids Dash (Bocil Ngegas 500m) Educated Run, Gas Bareng 5K Fun Run, Gas Tipis 10K Fun Race, Gas Ngeeeng 25K Half Trail Marathon, dan Gas Poool 42K Full Trail Marathon.

Filosofi "Gas" menggambarkan dorongan progresif, easy going dan simple, dari langkah kecil hingga langkah besar, semua punya tempat di Votcha.

Total hadiah mencapai Rp34 juta uang tunai plus ratusan juta rupiah dalam bentuk produk sponsor dari brand ternama.

Ajang perdana Votcha 2025 juga melahirkan para juara.

Di kategori Kids Dash, ratusan anak berlari riang di bawah gerimis dengan Rafa Alviano dan Zia Aurel keluar sebagai finisher tercepat.

Di kategori Gas Bareng 5K, gelar juara diraih oleh Mariana (putri, dengan catatan waktu 1 jam 50 menit 33 detik) dan Muhammad Fakhrur Razy (putra, 1:18:10) sementara posisi kedua dan ketiga diisi oleh Asri Kori Khaerania, Selly Martha Trani, serta Deden Sayful Rahman dan Andi Fahrul yang sama-sama tampil impresif hingga akhir lintasan.

Untuk kategori Gas Ngeeeng 25K, kemenangan disabet oleh Aisyah Nur Rahmah (putri, 4:19:13) dan Sobari Herdiana (putra, 2:51:07) disusul Rosta Handayani, Ayu Rahayu, Taufik Hidayat, dan Abdul Rohman di podium berikutnya.

Sementara di kategori Gas Poool 42K Ultra Trail, jalur tersulit Votcha tahun ini, gelar juara diraih oleh Gina Mugiawati (putri, 7:28:31) dan Muhammad Fahriz F. (putra, 4:54:43), diikuti oleh Maria Michelle A, Elis Nurmalia, Hiroyuki Matsuda, dan Arief Wismoyono.

"Kami ingin menunjukkan bahwa trail run itu inklusif. Semua bisa ikut, dari anak-anak sampai veteran," ujar Denis Dzulfikri selaku Event Director.

"Semakin banyak yang berlari, semakin banyak pengaruhnya"

Votcha bukan hanya kejuaraan tetapi juga penggerak ekonomi daerah.

Selama dua hari penyelenggaraan, banyak villa dan homestay di Ciater dan Lembang penuh, warung-warung lokal ramai, dan para petani kebun teh ikut menyiapkan jalur.

Lebih dari 200 volunteer lokal terlibat, mulai dari marshal, tim medis, fotografer, hingga pengrajin UMKM yang berjualan di race village.

“Kami bangga bisa membantu acara sebesar ini. Rasanya seperti kampung kami jadi pusat dunia,” kata Dadan, warga Desa Cibeusi yang bertugas di pos medis.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat ajang ini berpotensi menambah perputaran ekonomi Subang-Bandung Barat bisa mencapai miliaran rupiah sekaligus memperkenalkan Gunung Tangkuban Perahu sebagai pusat destinasi eco-sport tourism baru di Jawa Barat.

×
Berita Terbaru Update