-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dosen Filsafat UGM Serukan Kolaborasi Manusia dan AI untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Selasa, 11 November 2025 | November 11, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-12T07:30:20Z
PORTAL JOGJA – Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini menjadi perhatian serius di berbagai kalangan. Sejumlah ahli bahkan menilai adanya potensi risiko besar di masa depan.

Berdasarkan survei yang dilakukan Katja Grace, pendiri AI Impacts, dan timnya dalam riset berjudul “Thousands of AI Authors on the Future of AI”, sekitar 38–51 persen ahli menilai ada peluang minimal 10 persen bahwa AI tingkat lanjut bisa menimbulkan konsekuensi bencana bagi manusia.

Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, M.Hum., menilai kekhawatiran terhadap perkembangan AI merupakan hal yang wajar.

“Tetapi, sesungguhnya kalau kita merefleksikan, itu adalah cerminan dari manusia yang sebenarnya memiliki kekuatan-kekuatan tersembunyi yang kalau bisa kita kelola dengan baik, itu akan melahirkan hal yang tidak terbayangkan sebelumnya, termasuk perkembangan teknologi yang kemudian kita sebut dengan AI,” ujarnya, Senin (10/11/2025).

Menurutnya, langkah penting untuk menghadapi perkembangan AI adalah dengan memahami cara kerja teknologi secara menyeluruh. Manusia, sebagai pencipta teknologi, perlu melakukan mitigasi risiko, meningkatkan literasi digital, serta memastikan adanya regulasi yang memadai.

“Memahami betul itu kan termasuk juga memikirkan konsekuensi atau aspek-aspek yang dimunculkan oleh teknologi yang kita ciptakan, baik yang positif maupun negatif,” tuturnya.

Prof. Siti menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran utama dalam membentuk kesadaran dan etika dalam berteknologi. Pendidikan, katanya, menjadi media paling efektif untuk memberikan fondasi moral agar manusia mampu menciptakan dan mengembangkan teknologi secara bertanggung jawab.

Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda perlu tumbuh secara seimbang antara dunia digital dan dunia nyata.

“Tumbuh kembang secara biologis itu diperlukan sebagai manusia yang organik, bukan manusia yang secara keseluruhan jiwa raganya terkena terpaan teknologi,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai AI sejatinya merupakan hasil dari kemajuan inovasi manusia.

“Kita ini adalah manusia yang akalnya tidak terbatas. Sementara, teknologi AI ini pikirannya hanya dari hari ini dan kemarin atau sesuai dengan yang kita masukkan,” terangnya.

Siti pun mengajak masyarakat untuk melihat AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra yang dapat diajak berkolaborasi.

“Selalu bijaklah hidup di tengah teknologi AI dan bermitralah dengan sehat sebagai pengguna ataupun pembuat,” pungkasnya.***

×
Berita Terbaru Update