-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

DLH Gandeng ITS Teliti Pencemaran Mikroplastik di Surabaya

Selasa, 18 November 2025 | November 18, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-20T09:35:54Z

jatim. , SURABAYA - Dinas Lingkuhan Hidup (DLH) Kota Surabaya bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk melakukan penelitian mengenai temuan pencemaran mikroplastik di Kota Pahlawan.

Rencana ini sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian yang dilakukan sejumlah lembaga mulai dari Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas GrowGreen, River Warrior, dan Ecoton.

Kepala DLH Surabaya Dedik Irianto menyampaikan Surabaya sebagai kota metropolitan sulit menghindari pencemaran mikroplastik.

Menurutnya, pencemaran mikroplastik disebabkan karena pembakaran sampah, gesekan roda dengan ban, hingga timbunan plastik yang kerap dijumpai di Surabaya.

"Biasanya mikroplastik ini kalau sudah di udara terjebak di awan dan sebagainya. Setelah terjadi kondensasi, kemudian turun hujan. Itulah kemudian hujan itu ada kandungan mikroplastiknya," ujar Dedik, Selasa (18/11).

Dedik menyampaikan hasil penelitian yang dilakukan bersama ITS akan digunakan untuk menentukan langka apa yang dilakukan pemerintah.

"Langkah-langkah yang sudah lakukan dan terkait dengan pemberitaan ini, kami akan bekerja sama dengan ITS untuk juga melakukan penelitian yang sama, melakukan pengujian yang sama, dengan apa menguji kualitas air hujan di Kota Surabaya seperti apa," ungkap Dedik.

"Nanti hasilnya baru bisa kami sampaikan, kemudian langkah-langkah medikasi berikutnya harus seperti apa," imbuh dia.

DLH Surabaya telah rutin melakukan penelitian kualitas air dan udara di Kota Pahlawan. Khusus penelitian kualitas air sungai, ada 44 titik pengamatan.

"Bisa jadi kalau sungai itu mengandung mikroplastik, kan hujan itu dari penguapan yang ada di darat. Jadi, sungai itu menguap mungkin bisa jadi mikroplastiknya itu bersama dengan penguapan itu ketangkap ke udara dan sebagainya," jelasnya.

Dedik menambahkan untuk mencegah cemaran mikroplastik, Pemkot Surabaya telah memiliki aturan untuk membatasi penggunaan tas plastik sekali pakai. Pembatan penggunaan plastik ini telah diatur dalam Perwali 16 tahun 2022.

"Bapak Wali Kota Surabaya ini sudah mengeluarkan salah satu aturan, yaitu di Perwali 16 tahun 2022, itu sudah melarang penggunaan sampah tas dari plastik sekali pakai. Ini juga sangat berpengaruh terhadap apa timbulnya mikroplastik di Surabaya," bebernya.

Tak hanya itu, sistem pengelolaan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo telah menggunakan gasifikasi power plant.

Lewat sistem tersebut, sisa pembuangan berupa Fly Ash dan Bottom Ash yang banyak mengandung mikroplastik ditangkap agar tidak mencemari udara.

"TPA Benowo itu juga menggunakan sistem gasifikasi power plant. Ini juga menangkap Fly Ash dan Bottom Ash yang banyak kandungan mikroplastiknya itu ditangkap sehingga yang pengelolaan itu semaksimal mungkin tidak menimbulkan mikroplastik di udara," pungkas dia. (mcr23/jpnn)

×
Berita Terbaru Update