-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

BYD Racco: Mobil Kei Listrik China yang Siap Tantang Dominasi Jepang di Segmen City Car Kompak

Kamis, 13 November 2025 | November 13, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-14T08:15:16Z
PR GARUT - Pasar mobil listrik di Jepang kini kedatangan pemain baru yang cukup berani. Produsen asal Tiongkok, BYD, meluncurkan model terbarunya yang dirancang khusus untuk memenuhi kategori kei car khas Jepang. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa BYD serius menantang dominasi pabrikan lokal di segmen city car kompak.

Mobil mungil ini diberi nama BYD Racco, dan menjadi model pertama dari BYD yang dirancang sepenuhnya untuk pasar Jepang. Dengan ukuran ringkas dan efisiensi tinggi, mobil ini menyasar konsumen urban yang mencari kendaraan praktis, hemat energi, namun tetap modern secara teknologi.

Kehadiran Racco juga menandai babak baru persaingan antara produsen mobil Jepang dan Tiongkok. Selama ini, pasar kei car dikenal sangat protektif terhadap merek domestik, namun BYD mencoba menembus batas itu dengan menawarkan teknologi listrik penuh serta harga yang kompetitif.

Secara desain, Racco mengusung tampilan sederhana namun modern. Dimensinya mengikuti regulasi kei car Jepang, yaitu panjang sekitar 3,4 meter. Proporsi bodinya yang mengotak membuatnya tampak fungsional dan efisien dalam pemanfaatan ruang kabin. Sekilas, bentuknya mirip dengan beberapa model kei car Jepang seperti Daihatsu Tanto atau Mitsubishi eK.

Bagian depan tampil manis dengan lampu utama berbentuk huruf C serta logo BYD besar di tengah grill. Aksen berwarna senada bodi membuat tampilannya lebih bersih dan futuristik. Meskipun minimalis, mobil ini sudah dilengkapi fitur ADAS dengan kamera di bagian depan sebagai sistem bantuan pengemudi.

Menariknya, lampu depan Racco menyertakan detail tulisan "BYD Racco" di dalam housing-nya, menambah kesan eksklusif. Desain bumper depan pun dibuat sederhana dengan tambahan lampu kabut LED di bagian bawah. Peleknya berukuran 15 inci dengan ban 165/65, serta finishing abu-abu yang memberi nuansa elegan.

Port pengisian dayanya terletak di bagian atas fender depan. Berdasarkan konfigurasi mobil kei car yang dijual di Jepang, besar kemungkinan sistemnya masih menggunakan konektor CHAdeMO, standar pengisian cepat khas Jepang.

Untuk urusan tenaga, BYD Racco dibekali baterai berkapasitas antara 20 hingga 40 kWh. Dalam kondisi penuh, jarak tempuhnya diklaim mencapai sekitar 180 kilometer. Seperti model BYD lainnya, mobil ini juga menggunakan Blade Battery, teknologi baterai andalan BYD yang terkenal aman dan tahan lama.

Dari sisi samping, Racco masih mempertahankan desain khas kei car dengan pintu geser atau sliding door, memudahkan akses keluar-masuk di area sempit. Di bawah spion juga terdapat kamera tambahan sebagai bagian dari sistem 360-degree view. Hal ini menunjukkan bahwa BYD tetap memperhatikan fitur keselamatan meski mobilnya mungil.

Bagian belakang tampil sangat sederhana. Desain kotak dengan lampu belakang berbentuk C yang terhubung garis LED di tengah memberi kesan futuristik. Logo BYD di bagian tengah sedikit berpendar, menjadi elemen khas yang memperkuat identitas merek.

Interiornya belum ditampilkan sepenuhnya, namun dari gambar yang beredar, tampak layar besar di bagian tengah dashboard. Kemungkinan besar sistem infotainment-nya akan mengusung tampilan dan fungsi khas BYD, termasuk konektivitas cerdas dan integrasi peta digital.

Di Jepang, harga BYD Racco dipatok mulai dari 16.500 dolar AS, atau sekitar Rp250–300 jutaan. Angka ini membuatnya jauh lebih terjangkau dibandingkan beberapa rival kei car listrik buatan Jepang. Namun, perlu diingat bahwa harga tersebut bisa tercapai berkat subsidi pemerintah Jepang untuk kendaraan ramah lingkungan.

Masuknya BYD Racco ke pasar Jepang menandakan dimulainya “perang” baru di dunia mobil listrik kecil. Kini, tinggal bagaimana konsumen Jepang merespons mobil kei listrik yang bukan buatan negeri sendiri. Jika sukses, langkah ini bisa menjadi batu loncatan besar bagi BYD untuk menembus pasar Asia lainnya — termasuk Indonesia — meski tanpa dukungan subsidi seperti di Jepang.***

×
Berita Terbaru Update