-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

AUTO-DRMA Tahan Banting! Bisnis Otomotif Merana, Grup Astra-Triputra Panen Laba

Kamis, 30 Oktober 2025 | Oktober 30, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-01T09:40:48Z

, JAKARTA — Sejumlah emiten komponen otomotif seperti PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) besutan Grup Astra dan PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) besutan Grup Triputra masih membukukan kenaikan laba bersih di tengah tantangan industri otomotif pada tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan, AUTO telah meraup laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,56 triliun per kuartal III/2025, naik sebesar 2,62% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,52 triliun.

Pertumbuhan laba AUTO sejalan dengan raupan pendapatan bersih yang naik 4,51% YoY menjadi Rp14,8 triliun dalam sembilan bulan 2025, dibandingkan periode sembilan bulan 2024 sebesar Rp14,16 triliun.

“Pertumbuhan kinerja kuartal III/2025 perseroan menjadi cerminan kepercayaan pelanggan terhadap kualitas produk dan layanan Astra Otoparts. Kami akan terus memperkuat kolaborasi, efisiensi rantai pasok, dan inovasi produk untuk menjaga daya saing jangka panjang,” ujar Direktur Astra Otoparts Sophie Handili dalam keterangan tertulis pada Selasa (28/10/2025).

DRMA pun masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih 1,89% YoY menjadi sebesar Rp419,87 miliar per kuartal III/2025, dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp412,07 miliar.

Catatan laba DRMA sejalan dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 9,2% yoy menjadi Rp4,39 triliun pada sembilan bulan 2025, dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp4,02 triliun.

“Keberhasilan perseroan meraih kinerja solid di situasi sulit ini terjadi berkat strategi diversifikasi produk serta efisiensi di lini manufaktur yang turut memperkuat profitabilitas,” kata President Direktur Dharma Polimetal, Irianto Santoso dalam keterangan tertulis pada beberapa waktu lalu.

Emiten komponen otomotif lainnya PT Garuda Metalindo Tbk . (BOLT) mencetak kinerja laba kinclong per kuartal III/2025 mencapai Rp107,75 miliar, naik 63,09% YoY. Catatan laba BOLT itu sejalan dengan raupan penjualan neto yang naik 13,55% YoY menjadi Rp1,25 triliun.

Meskipun, emiten komponen otomotif lainnya PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL) mencatatkan kinerja laba yang merosot. GJTL telah meraup bersih Rp789,69 miliar per kuartal III/2025, turun 20,12% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp988,55 miliar.

Kinerja laba GJTL tertekan oleh penjualan bersih perseroan yang turun 2,38% YoY menjadi Rp13,12 triliun per kuartal III/2025, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp13,44 triliun.

Ganjalan Emiten Komponen Otomotif

Catatan laba emiten komponen otomotif itu diraih di tengah ragam tantangan. Industri otomotif Tanah Air misalnya saat ini masih lesu.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara wholesales sepanjang Januari-September 2025 tercatat sebanyak 561.819 unit, merosot 11,3% YoY dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar 633.660 unit.

Penjualan mobil secara ritel juga ikut menyusut 10,9% YoY menjadi 585.917 unit per kuartal III/2025, dibandingkan pada 9 bulan 2024 yang mencatatkan angka 657.448 unit.

Analis Ina Sekuritas Arief Machrus mengatakan dalam risetnya bahwa industri otomotif Indonesia menghadapi tahun yang penuh tantangan. Penjualan kendaraan roda empat diproyeksikan turun sekitar 8% YoY pada tahun ini menjadi 800.000 unit, di bawah target Gaikindo sebesar 850.000 unit.

“Pelemahan industri otomotif terjadi di tengah daya beli konsumen yang lemah dan suku bunga yang tinggi. Pembeli semakin beralih ke mobil bekas dan kendaraan bermotor roda dua, meskipun penjualan kendaraan bermotor roda dua di semester I/2025 juga turun 2% YoY,” kata Arief dalam risetnya pada beberapa waktu lalu.

Lesunya industri otomotif Tanah Air ini kemudian menekan produsen komponen otomotif seperti DRMA dan AUTO.

Analis Samuel Sekuritas Jason Sebastian juga menilai industri otomotif Tanah Air saat ini sedang lesu, dengan penjualan mobil diperkirakan turun 7%-9% secara tahunan pada 2025 karena kondisi ekonomi yang kurang kondusif.

“Kondisi pasar yang sulit ini dapat membebani pertumbuhan jangka pendek bagi DRMA, meskipun ada beberapa dukungan tahun ini dari peluncuran suku cadang baru,” kata Jason dalam risetnya.

Strategi Raup Cuan

Di tengah tantangan tersebut, sejumlah emiten komponen otomotif menjalankan ragam strategi guna mampu mendongkrak profitabilitas. DRMA misalnya menjajal diversifikasi produk.

Dalam hal diversifikasi, DRMA bergeliat membangun dan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebagai rencana strategis. Untuk itu, DRMA telah mengembangkan unit bisnis Dharma Connect (DC) sebagai ekosistem komponen kendaraan listrik.

Selain itu, DRMA masuk ke after market dengan mengembangkan produk aki lithium 12V, 6Ah. DRMA juga menjajal diversifikasi produk non komponen otomotif yakni dengan mengembangkan Battery Energy Storage System (BESS).

Selain itu, DRMA menjalankan efisiensi. DRMA gencar menerapkan teknologi otomatisasi di beberapa fasilitas produksi guna peningkatan produktivitas dan kualitas produk. DRMA juga berupaya mengendalikan rantai pasok yang lebih baik guna membantu menjaga stabilitas usaha saat industri otomotif mengalami tekanan.

AUTO pun menjalankan langkah diversifikasi. Perseroan memperluas portofolio ke produk non otomotif, seperti alat kesehatan, komponen alat berat, dan industri lainnya.

Astra Otoparts juga turut mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional melalui produksi general parts hingga specific parts untuk kendaraan x-EV dan menghadirkan infrastruktur pengisian daya kendaraan bermotor listrik berbasis baterai melalui merek Altro.

Selain itu, AUTO berupaya mendongkrak lini bisnis trading mereka melalui jaringan ritel modern seperti Shop & Drive dan Astra Otoservice. Selain itu, AUTO memperkuat permintaan ekspor ke berbagai negara tujuan.

Gerak Saham

Di tengah ragam tantangan itu, gerak saham sejumlah emiten komponen otomotif pun masih tumbuh. Harga saham DRMA kokoh di zona hijau, menguat 18,48% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak perdagangan perdana 2025 ke level Rp1.090 per lembar pada perdagangan sesi pertama hari ini, Rabu (29/10/2025).

Harga saham AUTO pun masih kokoh di zona hijau, menguat 8,7% ytd ke level Rp2.500 per lembar pada perdagangan sesi pertama hari ini. Meskipun saham BOLT turun 15,77% ytd dan GJTL turun 5,8% ytd.

Berdasarkan data Bloomberg, konsensus analis terbaru menunjukkan bahwa sebanyak sembilan sekuritas menyematkan rekomendasi beli untuk DRMA. Lalu, dua sekuritas menyematkan rekomendasi hold untuk DRMA. Target harga saham DRMA sendiri berada di level Rp1.260 per lembar dalam 12 bulan ke depan.

Untuk AUTO, konsensus analis terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 11 sekuritas menyematkan rekomendasi beli. Target harga saham AUTO sendiri berada di level Rp2.778 per lembar dalam 12 bulan ke depan.

×
Berita Terbaru Update