, BATAM - Wali kota Batam, Amsakar Achmad menyoroti keluhan pedagang mengenai tingginya biaya transportasi, yang kerap menjadi penyebab naiknya harga sembako di pasar.
Menurutnya, untuk menekan biaya transportasi atau biaya kargo pedagang kecil harus bermitra dengan distributor besar.
“Pedagang kecil sebaiknya membentuk kelompok kerja sama dengan distributor untuk mendatangkan barang dalam jumlah besar. Nanti bisa disalurkan ke pedagang eceran di pasar. Dengan begitu, biaya ongkos kirim akan lebih murah,” terangnya, Selasa (21/10/2025).
Amsakar juga menyebut, berdasarkan data kependudukan, jumlah penduduk Batam kini mencapai 1,3 juta jiwa, yang berarti kebutuhan bahan pokok juga sangat tinggi.
Kalau distributor bisa mendatangkan barang dalam jumlah besar, tentu harga bisa ditekan.
Apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru, harga yang stabil akan membuat masyarakat lebih tenang,” tambahnya.
Amsakar juga menekankan pentingnya kemitraan antara pengecer, pedagang besar dan distributor.
Ini menurutnya penting untuk menjaga harga tetap normal dan pasokan stabil di tengah meningkatnya permintaan menjelang akhir tahun.
“Kita ingin masyarakat Batam bisa menikmati Natal dan Tahun Baru dengan tenang, tanpa terbebani oleh harga sembako yang melonjak,” ucap Walikota Batam itu.
Amsakar Achmad juga menepis kekhawatiran soal potensi kelangkaan bahan pokok di Batam.
Menurutnya dengan konektivitas yang kuat, pasokan bisa datang dari berbagai daerah kapan pun dibutuhkan.
Posisi strategis Batam yang terkoneksi dengan hampir seluruh daerah di Indonesia menjadi keunggulan besar dalam menjaga stabilitas pasokan bahan pokok.
Amsakar mengatakan, konektivitas Batam yang terhubung dengan daerah lain di Indonesia baik melalui jalur laut maupun udar membuat arus barang dan jasa berjalan lancar.
“Kalau kata kunci sektor perdagangan dan jasa ini pada lalu lintas orang dan barang, maka Batam ini sudah sangat terkoneksi ke seluruh daerah di Indonesia. Ada yang direct, ada juga yang indirect, tapi semuanya tersambung,” kata Amsakar Achmad di Batam.
Amsakar mencontohkan konektivitas jalur laut dari Kijang ke Batam, lanjut ke Sumatera Utara, hingga Tanjung Priok di Jakarta yang bisa diteruskan ke wilayah Sulawesi.
Sementara jalur udara dari Batam juga terhubung langsung ke kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, hingga Makassar dan Papua.
Menurutnya dengan aksesibilitas yang lancar serta jumlah penduduk Batam yang besar, pelaku usaha seharusnya bisa mendatangkan kebutuhan pokok dalam jumlah besar.
"Kalau didatangkan banyak, otomatis biaya transportasi jauh lebih murah,” ucap Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam itu.
Amsakar mencontohkan komoditas cabai merah yang sebagian besar dipasok dari Lombok.
Meski menempuh jalur udara, harga cabai tersebut masih kompetitif karena jumlah pengiriman yang besar dan efisien.
“Cabai dari Lombok ini bahkan naik pesawat kargo. Jadi bukan soal jarak, tapi bagaimana kita mengatur pengirimannya dengan efektif,” sebutnya. (/Pertanian Sitanggang)