Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kesiapannya untuk menengahi konflik bersenjata yang kembali pecah antara Pakistan dan Afghanistan, menyusul bentrokan mematikan di wilayah perbatasan kedua negara akhir pekan lalu.
Militer Pakistan melaporkan sedikitnya 23 tentaranya tewas dalam bentrokan paling serius sejak Taliban berkuasa di Afghanistan pada 2021. Di sisi lain, Taliban menyebut sembilan anggotanya turut tewas dalam pertempuran tersebut.
Kedua pihak saling mengklaim telah menimbulkan korban yang lebih besar tanpa memberikan bukti. Pakistan menyebut telah menewaskan lebih dari 200 pejuang Taliban Afghanistan dan sekutunya, sementara Kabul menyatakan 58 tentara Pakistan tewas dalam serangan balasan.
Pemerintah Afghanistan menegaskan pasukannya hanya merespons pelanggaran berulang terhadap wilayah darat dan udara oleh militer Pakistan.
Sebaliknya, Islamabad menyebut serangan udara yang dilancarkan menargetkan tempat persembunyian kelompok teror Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) di wilayah Afghanistan.
Menanggapi eskalasi itu, Presiden Trump mengaku siap turun tangan.
“Ini akan menjadi perang kedelapan yang telah saya selesaikan,” ujarnya sambil tertawa kepada wartawan di pesawat Air Force One dalam perjalanan ke Israel, Minggu (12/10/2025) malam.
“Saya dengar sekarang sedang terjadi perang antara Pakistan dan Afghanistan. Saya bilang itu harus menunggu sampai saya kembali. Karena saya ahli dalam menyelesaikan perang, menciptakan perdamaian, dan merupakan suatu kehormatan untuk melakukan ini,” lanjutnya, dikutip dari The Independent pada Senin (13/10/2025).
Trump berbicara usai ditanya mengenai penghargaan atas perannya memediasi gencatan senjata Gaza antara Israel dan Hamas.
“Merupakan suatu kehormatan untuk melakukannya. Saya telah menyelamatkan jutaan nyawa,” kata dia.
Meski beberapa kali menyinggung soal nominasi Hadiah Nobel Perdamaian, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak melakukan upaya perdamaian demi penghargaan tersebut.
“Saya melakukannya bukan untuk Nobel. Saya melakukannya untuk menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
Trump saat ini tengah melakukan kunjungan ke Israel dan Mesir untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata di Gaza, yang ia bantu mediasi.
Kesepakatan tersebut mengharuskan Hamas membebaskan 48 tawanan Israel, baik yang masih hidup maupun telah meninggal, sebagai imbalan pembebasan ratusan tahanan Palestina oleh Israel.
Sementara perang di Timur Tengah mulai mereda, konflik di Asia Selatan justru meningkat. Juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, mengatakan pasukan Afghanistan telah merebut 25 pos perbatasan milik tentara Pakistan dan melukai sekitar 30 tentaranya.
“Situasi di seluruh perbatasan resmi dan garis de facto Afghanistan kini sepenuhnya terkendali. Aktivitas ilegal sebagian besar telah dicegah,” ujar Mujahid.
Pakistan menuduh Afghanistan melindungi kelompok teror TTP yang dianggap bertanggung jawab atas serangan mematikan di wilayahnya. Namun, Kabul membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk menyerang negara lain.
Penjabat Menteri Luar Negeri Afghanistan, Amir Khan Muttaqi, yang sedang berada di India, mengatakan Kabul menghormati seruan negara-negara Teluk untuk menghentikan apa yang disebutnya sebagai “serangan balasan” terhadap Pakistan.
“Kami menginginkan penyelesaian situasi secara damai. Tetapi jika upaya perdamaian tidak berhasil, kami memiliki pilihan lain,” kata Muttaqi.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Taliban terkait tawaran Trump untuk menengahi konflik perbatasan tersebut.