PIKIRAN RAKYAT - Menikah bukan sekadar momen sakral yang menyatukan dua hati, tetapi juga awal dari perjalanan panjang membangun kehidupan bersama. Banyak ayah yang, di balik sikap tegas dan bijaknya, menyimpan nasihat berharga untuk anak-anak mereka yang siap melangkah ke jenjang pernikahan.
Seorang ayah sering kali memandang pernikahan bukan dari sisi romantis semata, tetapi dari sudut tanggung jawab, kesabaran, dan kesiapan mental.
“Menikah itu bukan hanya tentang cinta, tapi tentang komitmen dan kerja sama dua orang dalam menghadapi segala musim kehidupan,” ujar Psikolog Keluarga, Ajeng Raviando, M.Psi.
1. Persiapan Diri Sebelum Menikah
Menurut banyak ayah, kesiapan menikah dimulai dari diri sendiri. Bukan hanya kesiapan finansial, tetapi juga kedewasaan emosional dan mental.
Ayah akan mengingatkan bahwa kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya penuh tawa, tetapi ada pula masa sulit yang menuntut keteguhan hati.
Sebelum melangkah ke pelaminan, anak disarankan untuk belajar mengelola emosi, memahami tanggung jawab rumah tangga, dan menghormati perbedaan.
“Ketika seseorang sudah siap menikah, ia bukan hanya siap mencintai, tapi juga siap berkompromi,” kata Konselor Pernikahan, Dewi Cahyani.
Selain itu, ayah biasanya menekankan pentingnya kemandirian finansial. Tidak harus kaya, tetapi mampu mengelola keuangan dengan bijak. Menikah berarti siap berbagi beban dan tanggung jawab ekonomi bersama pasangan.
2. Memilih Pasangan yang Tepat
Bagi seorang ayah, memilih pasangan hidup bukan sekadar mengikuti perasaan, melainkan keputusan besar yang menentukan masa depan.
Ayah akan menasihati anaknya untuk memilih seseorang yang sejalan dalam nilai, visi hidup, dan prinsip keluarga. Seperti disampaikan pemilik akun Bapackgbdig yang kerap berbagi nasehat pernikahan untuk para followersnya.
"Pikirin pasangan kamu itu, buat kamu perasaan kamu kaya pulang ke rumah yang nyaman atau ke rumah yang angker? kalau udah angker karakternya, keluarganya, udah gak usah denial. Cari rumah yang lain," ujar Bapack GBD.
Selain itu, Bapack GDB juga menyarankan followersnya untuk mencari pasangan yang bisa saling support agar segala ujian pernikahan terasa ringan.
"Cari pasangan yang bisa support kamu dari hal kecil aja, kalau gagal ak dikata-katain tapi disuppor dan dikuatin lagi, jadinya semangat buat capai sesuatu," ujarnya.
"Coba kalau dapat pasangan yang gak hargain kita, lama-lama kita pulang ke rumah orangtua, kena semprot, bikin ini salah, itu salah, lama-lama mati rasa. Makanya penting buat observasi pasangan, jangan keburu nafsu aja," sambungnya.
Serupa dengan Bapack GDB, menurut Usa anan Attaki menyebut pasangan yang baik bukan yang sempurna, melainkan yang mampu tumbuh bersama dalam suka dan duka.
“Jangan hanya cari pasangan yang membuatmu bahagia, tapi cari yang membuatmu dekat dengan Tuhan. Karena dari situ ketenangan hidup akan datang,” kata Ustaz Hanan Attaki.
Nasihat ini menekankan bahwa kebahagiaan rumah tangga bukan hanya berasal dari rasa cinta, tetapi juga dari kesamaan nilai spiritual dan moral.
3. Kesiapan Menghadapi Dinamika Pernikahan
Pernikahan ibarat perjalanan panjang tanpa peta pasti. Maka, seorang ayah biasanya menasihati anaknya untuk memiliki keteguhan hati, kesabaran, dan kemampuan berkomunikasi.
Ketika konflik datang, yang dibutuhkan bukan siapa yang menang, tetapi siapa yang mampu menjaga hubungan tetap utuh.
Ayah juga akan mengingatkan bahwa cinta perlu dirawat. Bukan dengan kata-kata manis, tetapi dengan tindakan nyata, saling menghargai, mendengarkan, dan mendukung satu sama lain.
4. Pesan Seorang Ayah
Pada akhirnya, setiap ayah berharap anaknya menemukan kebahagiaan dalam rumah tangga yang penuh kasih.
Menjalani pernikahan memang tidak mudah, tetapi dengan persiapan yang matang dan pasangan yang sejalan, setiap langkah akan terasa lebih ringan.
Sebab, seperti kata pepatah lama, 'Cinta memang membawa dua orang bertemu, tapi komitmenlah yang membuat mereka tetap bersama'.***