-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rugi Waskita (WSKT) Q3/2025 Bengkak jadi Rp3,17 Triliun, Belum Hitung Penjualan Tol ke Bakrie (BNBR)

Selasa, 14 Oktober 2025 | Oktober 14, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-19T03:55:30Z

, JAKARTA – PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) melaporkan pemburukan pos laba sepanjang Januari-September 2025. Entitas konstruksi Danantara ini mencatat penurunan pendapatan usaha yang diikuti dengan rugi bersih yang makin besar menjadi Rp3,17 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan, sepanjang kuartal III/2025 Waskita Karya mencatat pendapatan usaha sebesar Rp5,28 triliun. Angka ini turun 22,08% dibanding pendapatan periode yang sama di 2024 sebesar Rp6,78 triliun.

Hampir semua segmen pendapatan terkoreksi. Pendapatan jasa konstruksi susut 20,79% year on year (YoY) menjadi Rp3,76 triliun, penjualan precast turun 45,12% YoY menjadi Rp506,58 miliar, pendapatan properti terpangkas 67,13% YoY menjadi Rp43,88 miliar, penjualan infrastruktur lainnya turun 34,54% YoY menjadi Rp34,03 miliar, pendapatan hotel turun 11,22% YoY menjadi Rp70,92 miliar, dan sewa gedung dan peralatan turun 22,06% YoY menjadi Rp6,64 miliar. Hanya pendapatan dari jalan tol yang naik 2,97% YoY menjadi Rp859,39 miliar.

Sementara itu, beban pokok pendapatan tercatat turun 25,62% YoY menjadi Rp4,30 triliun. Sejumlah komponen terbesar dari beban pokok pendapatan ini adalah jasa konstruksi sebesar Rp3,33 triliun yang turun 25,46% YoY, jalan tol sebesar Rp452,11 miliar atau naik 23,57% YoY, hingga produk beton sebesar Rp404,62 miliar atau turun 45,74% YoY.

Alhasil, laba bruto perseroan turun 1,53% YoY dari Rp995,16 miliar menjadi Rp979,97 miliar.

Dari laba bruto tersebut, perusahaan masih harus membayar beban umum dan administrasi sebesar Rp1 triliun, beban non contributing plant Rp19,08 miliar, beban pajak final Rp95,37 miliar, dan beban lain-lain sebesar Rp638,82 miliar

Dengan demikian, meskipun ada pemasukan tambahan dari pendapatan bunga sebesar Rp421,43 miliar dan keuntungan selisih kurs Rp26,93 miliar, Waskita Karya tetap mencatatkan rugi bersih sebelum beban keuangan dan entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp413,26 miliar, berbeda dengan periode sebelumnya yang masih mencatat angka positif, yaitu laba Rp189,85 miliar.

Dari posisi yang sudah negatif tersebut, dengan menambahkan komponen beban keuangan dan rugi bersih asosiasi dan ventura bersama, serta beban pajak penghasilan, maka rugi periode berjalan yang ditanggung perseroan tercatat mencapai Rp3,58 triliun.

Sementara itu, rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan atau rugi bersih sepanjang Januari-September 2025 mencapai Rp3,17 triliun, semakin besar dibanding rugi bersih sepanjang kuartal III/2025 yang mencapai Rp3,00 triliun.

Sedangkan dari sisi neraca keuangan, aset Waskita Karya sepanjang kuartal III tahun ini mencapai Rp71,93 triliun, atau turun 6,78% YoY dibanding Rp77,15 triliun pada periode sebelumnya.

Liabilitas perseroan juga tercatat turun 2,49% dari Rp69,27 triliun menjadi Rp67,55 triliun. Sedangkan ekuitas turun 45,75% dari Rp7,88 triliun menjadi Rp4,27 triliun.

Waskita Jual Tol Cimanggis-Cibitung

Meski demikian, laporan keuangan ini belum mencantumkan hasil penjualan ruas tol Cimanggis-Cibitung per September 2025. Seperti diberitakan Bisnis sebelumnya, Waskita mengumumkan akan menjual kepemilikan saham di Jalan Tol Cimanggis–Cibitung. Direktur Utama WSKT Muhammad Hanugroho menjelaskan rencana pelepasan aset tersebut bakal dilakukan selambat-lambatnya pada Desember 2025. Di mana total dana segar yang dibidik mencapai Rp3,3 triliun.

“Ada Cimanggis–Cibitung Tollways [yang akan didivestasi],” jelasnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (5/3/2025).

Pada tol ini, WSKT melalui entitas usahanya yakni PT Waskita Toll Road (WTR) memang tercatat memiliki saham sebesar 35% di proyek Jalan Tol Cimanggis–Cibitung. Adapun, pemegang saham mayoritas di Tol Cimanggis–Cibitung (CCT) yakni PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dengan kepemilikan saham 55% dan dimiliki pula oleh Bakrie Group sebesar 10%.

Sedangkan pada awal September 2025, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengungkapkan detail skema untuk membeli dan menguasai 100% saham operator jalan tol pelabuhan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).

Holding manufaktur keluarga Bakrie itu mengungkap, anak usahanya PT Bakrie Toll Indonesia (BTI) akan meningkatkan kepemilikan dari 5% menjadi 100% di PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).

Dalam keterbukaan informasi, Kamis (4/9/2025), BNBR menjelaskan akuisisi mencakup pembelian 72 juta saham atau 90% saham CCT yang dimiliki PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dan PT Waskita Toll Road, anak usaha Waskita Karya (WSKT). Nilai transaksi pembelian saham tersebut mencapai Rp1 triliun.

Perinciannya, Bakrie akan memborong 28 juta saham CCT yang dimiliki oleh WTR atau setara dengan 35%. Dengan nilai transaski Rp1 triliun, maka anak usaha WSKT itu akan menerima dana segar sebesar Rp388 miliar. Selanjutnya 44 juta saham milik SMI atau setara 55% akan dibayar sekitar Rp610 miliar.

Selain itu, BTI juga akan mengambil alih piutang kedua perusahaan tersebut terhadap CCT senilai Rp2,56 triliun. Dengan demikian, total nilai transaksi mencapai Rp3,56 triliun.

Rencana Bakrie Kuasai Tol Cimanggis-Cibitung

"Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat Dalam Rangka Pelepasan Saham PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dan PT Waskita Toll Road di PT Cimanggis Cibitung Tollways kepada PT Bakrie Toll Indonesia [ditandatangani] tanggal 23 Juli 2025," tulis perusahaan lebih lanjut.

Untuk mendukung akuisisi ini, BTI akan memperoleh fasilitas pinjaman sebesar US$312 juta atau setara Rp5,15 triliun dari ADH Jackpot SPV Limited, anak usaha perusahaan investasi berbasis di Uni Emirat Arab. Pinjaman tersebut dijamin dengan gadai saham BTI yang dimiliki PT Bakrie Indo Infrastructure dan corporate guarantee dari BNBR.

Manajemen BNBR menyatakan akuisisi ini merupakan langkah strategis memperkuat posisi di sektor infrastruktur nasional, khususnya jaringan jalan tol Jakarta Outer Ring Road 2 (JORR 2). “Perseroan memandang bahwa akuisisi CCT merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi di sektor infrastruktur nasional, khususnya jalan tol yang memiliki peran penting dala mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi.,” tulis manajemen dalam dokumen keterbukaan informasi.

Selain itu, BNBR menyiapkan strategi untuk mengoptimalkan nilai tambah dari akuisisi dengan menjaga standar pelayanan minimum (SPM) guna mendukung kenaikan tarif, menekan biaya operasional, serta mengembangkan rest area sebagai sumber pendapatan tambahan.

×
Berita Terbaru Update