-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pertempuran Lima Hari Semarang, Gubernur Jateng: Perjuangan Tak Pernah Usai

Selasa, 14 Oktober 2025 | Oktober 14, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-17T01:40:58Z

SEMARANG, – Pertempuran Lima Hari di Semarang pecah pada 14–18 Oktober 1945.

Peristiwa heroik itu terjadi saat rakyat Semarang merayakan kemerdekaan, namun justru diganggu oleh tentara Jepang yang belum sepenuhnya menyerah.

Untuk memperingati peristiwa bersejarah tersebut, pertunjukan kolosal digelar oleh Teater Pitoelas Universitas 17 Agustus Semarang.

Pementasan ini menjadi puncak acara peringatan Pertempuran Lima Hari Semarang yang dipusatkan di kawasan Tugu Muda, Selasa malam (14/10/2025).

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang bertindak sebagai inspektur upacara, menegaskan bahwa Pertempuran Lima Hari di Semarang adalah salah satu tonggak sejarah perjuangan bangsa yang patut dikenang dan dihayati seluruh rakyat, terutama generasi muda.

"Perjuangan tidak pernah ada kata usai. Hari ini kita menghadapi berbagai tantangan serta cobaan dalam berbangsa dan bernegara," kata Luthfi dalam keterangan tertulis.

Dalam pertunjukan teater tersebut, situasi mencekam digambarkan dengan pemadaman lampu jalan di sekitar Tugu Muda.

Sirine meraung dan para pemain mengenakan busana masyarakat zaman penjajahan tampak panik menyikapi kabar bahwa waduk di kawasan Candi diracun dan Kampung Batik dibakar oleh tentara Jepang.

Puncak kemarahan rakyat terjadi setelah dr. Kariadi tewas dibunuh oleh tentara Jepang ketika sedang mengecek kondisi waduk.

Peristiwa itu menjadi pemicu terjadinya pertempuran selama lima hari di Semarang.

Upacara dan pertunjukan kolosal tersebut turut dihadiri oleh Sekda Jateng Sumarno, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, unsur Forkopimda Jawa Tengah dan Kota Semarang, serta para veteran.

Gubernur Luthfi menekankan, semangat juang yang diwariskan oleh pahlawan seperti dr. Kariadi perlu diteladani dan diterapkan dalam kehidupan masa kini.

"Para pahlawan bangsa seperti dokter Kariadi dan kawan-kawannya telah banyak memberi pelajaran tentang pengabdian, pengorbanan, perjuangan untuk Indonesia," ujarnya.

Ia mengajak masyarakat Jawa Tengah untuk mengadopsi nilai-nilai perjuangan dan kebersamaan ke dalam kerja dan karya nyata di era modern.

Gubernur juga mengingatkan pentingnya menjaga semangat gotong royong, terlebih Jawa Tengah memiliki 37 juta penduduk, 8.573 desa/kelurahan, 576 kecamatan, dan 35 kabupaten/kota dengan beragam potensi.

Dalam kesempatan itu, Luthfi mendorong masyarakat agar tetap berinovasi dan menjunjung tinggi integritas demi kemajuan daerah dan bangsa.

"Dari Kota Semarang dan Jawa Tengah, kita gelorakan semangat perjuangan dalam rangka membangun Indonesia," imbuhnya.

×
Berita Terbaru Update