2 minggu sudah tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, terjadi. Tak hanya korban selamat yang masih terbayang tragedi mengerikan itu. Tim Rescue juga masih terngiang tragedi yang merenggut 67 korban jiwa itu.
Hal itu seperti yang terjadi pada Abdul Azis, anggota Tim Rescue 1 Damkar Kota Surabaya. Ia mengaku hingga detik ini masih kerap terbayang tragedi memilukan itu. Tangisan hingga teriakan minta tolong dari para santri yang tertimbun reruntuhan bangunan masih terngiang-ngiang di telinga Azis.
"Iya masih terngiang, tangisan mereka, teriakan minta tolong, sampai upaya mereka mengetuk-ngetuk reruntuhan sebagai kode kalau masih bertahan (hidup). Semuanya masih terngiang," ungkap Azis, saat ditemui Basra di kantor PMK Pasar Turi Surabaya, Minggu (12/10) malam.
Azis mengaku jika malam akan beranjak tidur, bayang-bayang tragedi memilukan itu datang menghampirinya. Jika sudah demikian maka lantunan doa yang hanya bisa dilafalkan Azis bagi para korban tragedi tersebut.
Salah satu momen yang membekas dalam diri Azis adalah saat bisa berkomunikasi dengan salah satu santri yang terjebak di bawah reruntuhan beton. Momen percakapan dengan santri yang belakangan diketahui bernama Syailendra Haical atau Haikal itu lantas viral di media sosial.
"Iya waktu itu kami dari tim rescue berkomunikasi dengan Haikal, mencoba menguatkannya, memberinya dorongan semangat. Karena kondisi Haikal waktu itu memang cukup sulit dievakuasi. Sejak berhasil ditemukan pada hari Senin (29/9) malam, Haikal baru bisa dievakuasi tim Basarnas pada hari Rabu (1/10)," terang ayah 2 putri ini.
Berada di bawah reruntuhan beton yang rawan ambruk lagi, bersama rekannya, Elvanio Widya Santosa, Azis berhasil menemukan sejumlah santri yang masih bertahan hidup, salah satunya Haikal.
"Ada 6 santri, salah satunya Haikal itu," imbuhnya.
Hingga kini Azis mengaku masih sering memantau kondisi dari keenam santri tersebut. Bahkan ia tak bisa menyembunyikan kesedihan saat mengetahui kondisi Haikal yang harus diamputasi kaki kirinya.
"Ya gimana ya, memang kondisi Haikal waktu (di bawah reruntuhan) itu sangat sulit. Kakinya terjepit beton," tuturnya.
Bagi Azis, terlibat dalam proses penyelamatan korban tragedi ambruknya ponpes Al Khoziny menjadi yang pertama kali dilakukan dengan jumlah korban banyak dan besarnya bangunan yang ambruk.
"Kalau rescue korban reruntuhan bangunan pernah, tapi bangunannya tidak sebesar ponpes itu. Bahkan saya merasa sedang berada di Palestina karena saking besarnya bangunan yang ambruk dan korbannya banyak," tandasnya.