-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Evan Pemuda Gresik yang Sukses Kerja di Tesla, Dulu Dicap Anak Nakal

Selasa, 14 Oktober 2025 | Oktober 14, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-17T01:35:57Z

– Tidak semua perjalanan menuju kesuksesan dimulai dengan nilai sempurna di rapor atau ranking tinggi di kelas.

Sebab, bagi sebagian orang, kegagalan justru menjadi batu loncatan untuk menemukan arah hidup yang sesungguhnya.

Hal itu dialami oleh Evan Haydar, pria asal Gresik, Jawa Timur, yang kini bekerja sebagai profesional di divisi Human Resources (HR) di Tesla, perusahaan teknologi dan otomotif raksasa asal Amerika Serikat.

Bukan anak berprestasi, nilai tak jamin sukses

Dari ruang kelas di kota kecil di pesisir Jawa Timur, hingga ruang rapat perusahaan global di Jerman, perjalanan hidup Evan adalah kisah tentang perubahan, kerja keras, dan kekuatan nilai-nilai keluarga yang mengantarkannya menembus panggung dunia.

Lahir dan besar di Gresik, Evan tumbuh seperti remaja pada umumnya.

Namun, masa sekolahnya tidak diwarnai dengan prestasi akademik. Ia justru sering mendapat label sebagai anak “nakal”.

“Aku dulu bukan siswa yang berprestasi di sekolah. Aku malah sering dicap sebagai anak nakal. Aku juga tidak terlalu cocok sama sistem sekolah,” ujar Evan saat wawancara bersama , Rabu (15/10/2025).

Label itu sempat membuatnya pesimis akan masa depan. Terlebih, nilai akademiknya yang rendah membuat Evan khawatir tak bisa masuk universitas negeri favorit di Indonesia.

“Karena nilaiku jelek, aku takut nggak keterima di universitas negeri. Maka dari itu, aku putusin buat kuliah di luar negeri aja. Kebetulan waktu itu ada agen studi yg datang ke sekolah ku dan bilang kalo ternyata kuliah di jerman itu gratis,” ujarnya.

Ayah pinjam uang demi biaya kuliah

Keputusan itu menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Usai lulus SMA, Evan memutuskan untuk mengikuti kursus intensif bahasa Jerman di Surabaya, sebelum akhirnya melanjutkan kuliah ke Jerman.

Orang tua Evan sangat mendukung keputusannya untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Ayahnya bahkan rela mengambil pinjaman untuk membiayai keberangkatan Evan ke Jerman, karena keluarga mereka bukan berasal dari latar ekonomi yang berkecukupan.

Di negeri yang sama sekali baru, Evan memulai segalanya dari nol.

Ia menempuh studi di jurusan International Business di Hochschule für Technik und Wirtschaft Berlin (HTW) Berlin, sembari bekerja paruh waktu untuk membiayai kehidupannya.

“Selama kuliah aku kerja serabutan. Dari kerja pabrik, jaga toko, kerja di restoran, sampai jadi kasir juga pernah,” katanya.

Setiap pekerjaan itu, kata Evan, menjadi pelajaran berharga. Ia belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan pentingnya beradaptasi di lingkungan multikultural.

“Semua hal kecil itu tanpa sadar jadi bekal aku buat masuk Tesla,” ujarnya.

Kini, Evan bekerja sebagai profesional di divisi HR di Tesla, perusahaan yang dikenal inovatif dan cepat dalam mengembangkan teknologi masa depan.

Di lingkungan kerja yang sangat kompetitif dan multikultural, Evan tetap berpegang pada prinsip yang sama.

Ia percaya, etika dan karakter kuat adalah modal utama untuk bertahan dan tumbuh.

Baginya, kisah dari “anak nakal” menjadi HR di perusahaan teknologi dunia bukan sekadar cerita sukses pribadi.

Ia berharap kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk berani bermimpi dan berjuang.

Nilai-nilai hidup yang menguatkan

Bagi Evan, pencapaiannya bukan hasil instan, tetapi buah dari proses panjang dan nilai-nilai hidup yang ditanamkan sejak kecil.

Ia mengaku, peran orangtua memiliki arti besar dalam membentuk karakter dan mentalnya.

“Dari kecil, orangtuaku nggak pernah nuntut aku buat jadi anak paling pintar di sekolah. Tapi mereka selalu ajarin aku etika, karakter, dan mindset untuk menghadapi dunia,” ujarnya.

Ayahnya, kata Evan, selalu menanamkan nilai kerja keras dan pantang menyerah.

“Beliau bilang, meskipun kita berasal dari bawah, kita bisa berkembang asal mau berusaha. Itu yang selalu aku pegang,” tutur Evan.

Dukungan dan doa orangtua, lanjutnya, menjadi kekuatan yang tidak tergantikan. Setiap langkah yang Eva ambil di luar negeri selalu ada doa orang tua di belakangnya.

Selain peran keluarga, nilai spiritual juga menjadi pegangan utama dalam perjalanan hidup Evan.

Ia percaya bahwa keberhasilan bukan semata hasil kerja keras, tapi juga campur tangan Tuhan.

“Tanpa Tuhan, kita nggak akan bisa. Kita bisa merencanakan, tapi Tuhan yang menentukan,” ucapnya tegas.

Evan juga menekankan pentingnya sikap rendah hati, rasa syukur, dan kemauan untuk terus belajar.

Nilai-nilai itu ia bawa hingga ke dunia kerja, termasuk saat menghadapi tantangan di Tesla.

“Salah satu nilai yang paling aku pegang dari rumah itu kemauan untuk selalu belajar dan memperbaiki diri. Dari situ aku tahu bahwa kita bisa terus berkembang,” katanya.

×
Berita Terbaru Update