Salah satu warga lokal sekaligus kreator konten Wong Gunung, Totom Yulianto, menyebut banyak kampung yang dulu sepi kini berubah jadi jalur strategiis dan ramai aktivitas.
“Dulu di sini perkampungan yang sunyi, sekarang kanan kiri sudah banyak warung, pedagang, dan tempat parkir wisata,” ungkapnya.
Wilayah seperti Sambirejo dan Gunungsari misalnya, yang dulu berada di ujung jalan kecil, kini jadi area lintasan utama bus pariwisata dan mobil wisatawan. Banyak warga yang mulai membuka lahan usaha, seperti warung makan, kios oleh-oleh, hingga jasa sewa kendaraan wisata.
“Setiap akhir pekan, bus-bus besar lewat sini ke arah Breksi dan Banyunibo. Sekarang warga ikut kecipratan rezeki,” tambah Totom.
Beberapa warga yang rumahnya di pinggir jalan, juga memanfaatkan lahannya untuk membuka kios sementara, menjual minuman dan makanan ringan bagi wisatawan yang lewat.
Selain UMKM, pembangunan ini juga mendorong naiknya harga atau nilai tanah di kawasan yang dilewati proyek. Tanah yang dulu dianggap tidak strategis kini diburu untuk investasi. Di sisi lain, muncul juga tantangan baru—seperti adaptasi warga yang kampungnya terbelah oleh jalur baru.
“Awalnya warga sempat kaget karena kampungnya dibelah. Tapi sekarang sudah mulai terbiasa. Jalan ini membawa peluang besar,” tutur Totom.
Pemerintah daerah pun diharapkan bisa menata kawasan sekitar agar potensi ekonomi ini tidak tumbuh liar, melainkan terarah menjadi sentra wisata dan UMKM baru di Sleman timur.
Jalan baru Sleman–Gunungkidul bukan hanya infrastruktur fisik, tapi juga koridor ekonomi baru yang perlahan menghidupkan desa-desa di sekitarnya. Dari jalan desa jadi jalan masa depan.***