-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jakarta dalam Bahaya, Derai Hujannya Mengandung Mikroplastik

Jumat, 17 Oktober 2025 | Oktober 17, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-22T05:55:17Z

PIKIRAN RAKYAT – Ancaman mikroplastik kini kian nyata menghantui warga Jakarta. Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dilakukan sejak tahun 2022 mengungkap bahwa air hujan di ibu kota mengandung partikel mikroplastik berbahaya yang berasal dari aktivitas manusia sehari-hari.

Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, menyampaikan bahwa setiap sampel air hujan yang diuji di Jakarta menunjukkan adanya kandungan mikroplastik. Partikel berukuran sangat kecil itu merupakan hasil degradasi limbah plastik yang terangkat ke udara dan terbawa oleh angin.

“Siklus plastik tidak berhenti di laut. Ia naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan,” ujar Reza, Kamis, 16 Oktober 2025.

Menurutnya, sumber utama mikroplastik di atmosfer berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka. Jenis mikroplastik yang ditemukan antara lain berupa serat sintetis dan fragmen kecil dari polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena yang biasa terdapat pada ban kendaraan.

Penelitian BRIN menemukan sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari dalam air hujan di kawasan pesisir Jakarta. Fenomena ini disebut atmospheric microplastic deposition, yakni proses ketika partikel plastik melayang di udara dan kembali turun bersama hujan.

Dampak pada Lingkungan dan Kesehatan

Reza menegaskan bahwa air hujan itu sendiri bukan sumber racun, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya dapat membawa bahan kimia berbahaya. Zat tersebut mampu menyerap polutan yang kemudian masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan.

Meski masih memerlukan penelitian lanjutan, berbagai studi global menunjukkan bahwa paparan mikroplastik dapat menyebabkan stres oksidatif, gangguan hormon, hingga kerusakan jaringan tubuh. Dari sisi ekologi, hujan yang terkontaminasi mikroplastik juga dapat mencemari sumber air permukaan, sungai, hingga laut.

Gaya Hidup Urban Jadi Pemicu

Menurut BRIN, meningkatnya kadar mikroplastik di udara Jakarta tak lepas dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa dan sekitar 20 juta unit kendaraan, Jakarta menghasilkan limbah plastik dalam jumlah besar setiap harinya.

“Sampah plastik sekali pakai masih banyak, dan pengelolaannya belum ideal. Sebagian dibakar terbuka atau terbawa air hujan ke sungai,” ujar Reza seperti dikutip dari laman resmi BRIN.

Untuk menekan pencemaran mikroplastik, BRIN mendorong langkah-langkah strategis lintas sektor, seperti memperkuat riset dan pemantauan kualitas udara serta air hujan di kota besar, memperbaiki sistem pengelolaan sampah plastik di hulu, hingga mendorong industri tekstil agar memasang sistem filtrasi pada mesin cuci untuk menahan pelepasan serat sintetis.

Kesadaran Publik Jadi Kunci

BRIN menilai bahwa peran masyarakat sangat penting dalam mengurangi polusi mikroplastik. Reza mengajak publik untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah rumah tangga, dan menghindari pembakaran limbah secara terbuka.

“Kesadaran masyarakat bisa menekan polusi mikroplastik secara signifikan,” ujarnya.

Ia menutup dengan pernyataan reflektif mengenai kondisi lingkungan di ibu kota.

“Langit Jakarta sebenarnya sedang memantulkan perilaku manusia di bawahnya. Plastik yang kita buang sembarangan, asap yang kita biarkan mengepul, sampah yang kita bakar karena malas memilah, semuanya kembali pada kita dalam bentuk yang lebih halus, lebih senyap, tapi jauh lebih berbahaya,” tutup Reza.***

×
Berita Terbaru Update