KEKALAHAN tipis 0-1 Tim Nasional Indonesia dari Irak di Jeddah, yang dicetak oleh wonderkid Zidane Iqbal, telah menutup perjuangan Garuda di Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.
Hasil ini memang menyakitkan, Indonesia harus finis sebagai juru kunci Grup B tanpa poin, sekaligus menghentikan mimpi melangkah lebih jauh.
Tapi di balik kegagalan meraih tiket final sepak bola sejagat 2026 itu, tersimpan sebuah asa secara penampilan dan capaian level kompetisi, performa ini jauh melampaui capaian Timnas Indonesia pada era-era sebelumnya.
Pertanyaannya kini siapa yang salah? akan selalu bergaung pascakegagalan. Namun, jika kita mencari kambing hitam pada pelatih Patrick Kluivert atau para pemain naturalisasi, kita mungkin melewatkan akar masalah yang sesungguhnya.
Kegagalan ini sejatinya adalah konsekuensi dari sistem yang belum mencapai kematangan sempurna untuk bersaing di level tertinggi Asia. Skuad yang dihuni pemain diaspora terbaik yang pernah dimiliki Indonesia sudah berjuang mati-matian, bahkan berani mendominasi penguasaan bola melawan tim-tim Timur Tengah yang secara peringkat jauh di atas kita.
Inilah capaian terbaiknya, Indonesia menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang mampu menembus babak empat kualifikasi, melampaui tetangga-tetangga seperti Thailand dan Vietnam yang hanya mentok di babak sebelumnya.
Sayangnya, upaya jangka pendek membangun kekuatan instan ini belum sepenuhnya menghasilkan pengalaman dan mental yang kebal tekanan. Kita kalah karena faktor clinical finishing yang buruk dan kelengahan fatal di menit-menit krusial.
Lalu, ke mana arah selanjutnya? tentu saja bukan solusi instan, melainkan pada pembangunan fondasi yang lebih kokoh. Fokus harus dialihkan dari proyek 2026 menjadi proyek permanen PSSI.
Pertama harus dibenahi adalah ekosistem Liga 1. Selama kompetisi domestik kita belum mampu mendidik pemain lokal untuk bermain di tempo dan intensitas tinggi secara konsisten, selama itu pula Timnas akan kesulitan. Pemangku sepak bola Tanah Air harus memelihara momentum keberhasilan Timnas U17 yang berlaga di piala Dunia U17 akhir November 2025 nanti di Qatar.
Para pemain itulah yang menjadi cikal bakal pemain pemain masa depan kita. Oleh karenanya kompetisi liga yang ketat dan persaingan yang tiada henti di level usia dini harus terus di gulirkan.
Perjalanan Indonesia tidak berhenti hanya karena tereliminasi dari Kualifikasi Piala Dunia. Di depan mata, kita sudah memastikan tempat di Piala Asia 2027. Itu sebuah event kontinental yang akan menjadi barometer sejati untuk menguji kematangan skuad setelah kekalahan ini. Target yang paling realistis dan terukur adalah Piala Dunia 2034. Jika pembangunan grassroot dan Liga berjalan konsisten mulai saat ini, pemain muda diaspora dan lokal dapat dipadukan dalam sebuah sistem yang matang selama delapan tahun ke depan. (*)