Pantauan di lokasi, Minggu 19 Oktober 2025, tanaman eceng gondok yang mengambang terlihat sangat luas. Lokasi tidak begitu jauh dari badan bendungan yang diresmikan pada 29 Agustus 2024 oleh Presiden Joko Widodo.
Tanaman tersebut tidak sampai ke badan bendungan karena tertahan pelampung yang dipasang memanjang. Lokasi tanaman tersebut kadang sedikit bergeser sesuai dengan tiupan angin.
Luasnya eceng gondok mengakibatkan pemandangan sekitar bendungan tidak lagi indah. Terlebih jika dilihat dari tempat wisata Raden Patih, Dusun Guha, Desa Handapehrang.
Di beberapa titik lokasi memancing, bersih dari eceng gondok. Mereka memanfaatkan bambu atau batang kayu, hingga tanaman tidak mencapai tempat memancing ikan. Sementara itu, di sekelilingnya eceng gondok tumbuh subur.
Informasi yang dihimpun dari beberapa warga, sebelumnya tanaman eceng gondok berikut sampah yang sebagian besar berupa styrofoam disingkirkan. Namun, aktivitas pembersihan tidak lagi terlihat.
”Awalnya sampah mengambang, sekarang ganti eceng gondok. Lihat saja sebarannya sangat luas. Dulu BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) pernah rutin menyinggirkan eceng gondok, tetapi sekarang berhenti cukup lama,” kata Ujang, warga yang tinggal tidak jauh dari Bendungan Leuwikeris.
Dia menyebutkan, pertumbuhan eceng gondok sangat cepat. Dalam waktu sekira satu bulan, tanaman yang sebelumnya kecil, tumbuh menjadi besar. Sejak banyak sampah disusul munculnya eceng gondok, hal itu mengakibatkan pemandangan di sekitar tempat itu tidak lagi indah. Hal itu menyebabkan pengunjung Raden Patih semakin sepi, bahkan banyak warung tutup.
”Pengunjung kan ingin melihat pemandangan indah, hamparan air bendungan. Sekarang pemandangan diganti eceng gondok. Pengunjung sepi,” tuturnya.
Terkait dengan sebaran eceng gondok, sebelumnya Kepala BBWS Citanduy Roy Panagom mengatakan bahwa munculnya aktivitas warga di perairan, memberi andil eceng gondok berkembang pesat.
Padahal, katanya, keberadaan Bendungan Leuwikeris sangat vital. Selain dapat mengairi persawahan seluas 11.216 hektare, juga sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro, pengendali banjir, sumber air baku, konservasi tanah, hingga tujuan pariwisata.***