PIKIRAN RAKYAT - Sampah menjadi masalah. Di beberapa kota di Indonesia, sampah bahkan menjadi masalah besar.
Akademisi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro Rukuh Setiadi menilai pembangunan tempat pengelolaan sampah 3R (Reduce, Reuse, and Recycle) atau TPS-3R dan bank sampah merupakan program andalan untuk mencapai target pengurangan sampah hingga 30 persen pada 2025.
Walakin, Rukuh memandang kalau kedua program itu masih menemui kendala di lapangan dan bikin masyarakat skeptis terhadap upaya pemilahan sampah yang merupakan upaya awal penting dalam mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
"Untuk mengatasi penumpukan sampah di TPA yang sudah kelebihan kapasitas, maka sampah seharusnya dipilah dulu mulai dari rumah," katanya seperti dilaporkan The Conversation. "Secara sederhana, sampah di Indonesia minimal terpilah menjadi dua jenis yaitu sampah organik (plastik dan kardus) dan organik (sisa-sisa makanan)."
Rukun mengungkapkan, TPS-3R dan bank sampah belum bisa mendorong pemilahan sampah yang dilakukan mandiri oleh masyarakat lantaran menurutnya masyarakat di Indonesia skeptis dengan pemilahan karena melihat sampah yang sudah dipisahkan tercampur juga dalam truk dan gereobak sampah.
Selain itu, keterbatasan fasilitas di TPS-3R dan bank sampah menjadi masalah. Terakhir, pengelolaan sampah di daerah berjalan tidak maksimal lantaran tidak ditangani tenaga profesional dan ahli di bidang persampahan.
Apa yang Harus Dilakukan untuk Mendorong Pemilahan Sampah?
Setidaknya ada lima rekomendasi Rukuh untuk mendorong pemilahan sampah, yakni dengan menghubungkan sistem TPS-3R hingga ke tingkat rumah tangga, penguatan keterampilan dan pengetahuan operator TPS-3R dan bank sampah, bukan sekadar memberi bantuan fasilitas atau peralatan.
Selanjutnya adalah dengan merekrit tenaga pria lantaran pengelolaan sampah rumah tangga didominasi perempuan, menggabungkan TPS-3R dengan bank sampah bila diperlukan supaya tidak muncul rasa kompetisi antara kedua program tersebut.
Terakhir, Rukuh merekomendasikan agar mengintegrasikan bank sampah dengan sektor informal, yakni pengepul kecil sampai besar sebagai para pemain dalam bisnis daur ulang.
"Kerja sama ini sangat memungkinkan karena pengepul juga kesulitan untuk memenuhi bahan baku industri daur ulang dan biasa mengambil dari kota lain," katanya.***