-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

630 Siswa SMAN 1 Cimarga Mogok Sekolah Imbas Kepsek Tampar Murid Merokok, Dindikbud Banten Lakukan Investigasi

Selasa, 14 Oktober 2025 | Oktober 14, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-18T02:01:11Z

RUBLIK DEPOK – Sebanyak 630 siswa SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, masih melanjutkan aksi mogok belajar hingga Selasa, 14 Oktober 2025. Aksi ini merupakan buntut dari dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan Kepala Sekolah berinisial DF terhadap salah satu siswa yang ketahuan merokok di lingkungan sekolah.

Siswa Tetap Mogok, Sekolah Terapkan Belajar Jarak Jauh

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Cimarga, Emi Sumiati, mengungkapkan bahwa pihak sekolah telah berusaha membujuk siswa agar kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar. Namun, hingga kini belum ada respons positif dari para siswa.

Untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan, sekolah memutuskan menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tugas dan materi dikirimkan melalui grup WhatsApp, sementara komunikasi dengan orang tua dilakukan secara langsung agar tetap terpantau.

“Kami tetap mengirimkan tugas dan materi pelajaran lewat grup WhatsApp. Kami juga berkoordinasi dengan orang tua untuk memastikan anak-anak tetap belajar dari rumah,” ujar Emi.

Pihak sekolah juga telah berkoordinasi dengan Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Lebak serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten. Laporan terkait kondisi sekolah dan aksi mogok siswa sudah diterima dan sedang ditindaklanjuti melalui proses investigasi internal.

Akar Masalah: Siswa Ditegur karena Merokok

Aksi mogok siswa dipicu oleh insiden yang terjadi pada Jumat, 13 Oktober 2025, ketika seorang siswa kelas XII kedapatan merokok saat kegiatan Jumat Bersih di lingkungan sekolah. Kepala Sekolah DF yang saat itu sedang berkeliling menegur siswa dengan keras dan diduga sempat menampar karena terbawa emosi.

Dalam keterangannya, kepala sekolah menyebut bahwa teguran dilakukan secara spontan lantaran kecewa terhadap sikap siswa yang tidak jujur ketika dimintai keterangan. Ia mengklaim tidak melakukan pemukulan keras, hanya menepuk pipi siswa secara refleks saat menegur.

“Saya kecewa bukan karena dia merokok, tapi karena tidak jujur. Saya spontan menegur dengan keras karena menahan emosi. Tapi saya tegaskan, tidak ada pemukulan keras,” ujar DF dalam pernyataannya.

Reaksi Dinas Pendidikan dan Orang Tua

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang SMA Dindikbud Banten, Adang Abdurrahman, menyatakan bahwa kepala sekolah telah dinonaktifkan sementara untuk kepentingan pemeriksaan. Pemerintah meminta seluruh siswa segera kembali belajar agar kegiatan pendidikan di sekolah tidak terganggu.

“Kami berharap siswa bisa kembali bersekolah seperti biasa. Kepala sekolah sudah dinonaktifkan sementara, jadi proses hukum dan pemeriksaan akan tetap berjalan,” ujarnya.

Ketua Komite Sekolah, Kosim Ansori, juga menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dindikbud dan para orang tua untuk memulihkan kondisi sekolah. “Kami berusaha agar suasana belajar segera kembali normal. Semua pihak perlu menahan diri dan menyelesaikan masalah dengan bijak,” katanya.

Laporan Polisi dan Dampak Psikologis Siswa

Ibu dari siswa korban penamparan telah melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Ia menyatakan tidak menerima tindakan kekerasan terhadap anaknya dan menuntut agar kasus ini ditangani secara hukum. Saat ini, polisi telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk siswa yang menyaksikan kejadian di lokasi.

Pihak sekolah sendiri telah melakukan pendekatan kepada siswa yang menjadi korban guna memastikan kondisi psikisnya aman. Guru Bimbingan Konseling (BK) juga diterjunkan untuk memberikan pendampingan agar siswa tidak mengalami trauma pascakejadian.

Dindikbud Banten Evaluasi Sistem Disiplin Sekolah

Dindikbud Banten berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan disiplin di seluruh SMA negeri di wilayahnya. Langkah ini diambil untuk mencegah terulangnya tindakan kekerasan dalam konteks penegakan disiplin siswa.

Menurut pejabat Dindikbud, pendekatan pembinaan yang lebih edukatif akan ditekankan ke depan. Kepala sekolah dan guru akan diberikan pelatihan khusus mengenai manajemen emosi dan penyelesaian konflik di lingkungan pendidikan.

“Penegakan disiplin tidak boleh menggunakan kekerasan. Kami ingin semua pendidik memahami bahwa membentuk karakter siswa harus dilakukan dengan cara yang humanis,” ujar perwakilan Dinas.

Situasi Terbaru di SMAN 1 Cimarga

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa sekolah masih tampak sepi dari aktivitas belajar tatap muka. Sebagian guru tetap datang untuk menjalankan tugas administrasi dan memantau perkembangan situasi, sementara siswa menjalankan pembelajaran jarak jauh dari rumah.

Pemprov Banten berharap situasi ini segera pulih. Penunjukan pelaksana tugas (Plt) kepala sekolah baru tengah dipertimbangkan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali normal.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan SMAN 1 Cimarga bisa segera bangkit dari konflik internal dan kembali menjadi lingkungan pendidikan yang aman, disiplin, serta berorientasi pada pembentukan karakter siswa secara positif.

×
Berita Terbaru Update