KABAR TASIKMALAYA - Setiap anak memiliki karakter dan kemampuannya masing-masing. Dalam proses belajar pun, setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda.
Ada anak yang cenderung memiliki gaya belajar visual, yaitu melalui gambar dan tulisan, auditori yaitu melalui pendengaran, dan gaya belajar kinestetik yaitu melalui gerakan dan pengalaman fisik.
Anak yang memiliki gaya belajar visual, yaitu melalui gambar dan tulisan, akan lebih maksimal belajarnya jika dilakukan dengan pendekatan visual, yaitu menggunakan gambar dan tulisan. Sementara anak yang auditori, lebih akan maksimal belajarnya jika dilakukan dengan pendekatan pendengaran.
Begitupun anak yang memiliki gaya belajar kinestesik, akan maksimal belajarnya jika melalui pendekatan melalui gerakan dan pengalaman fisik.
Dengan fakta-fakta ini, maka untuk memaksimalkan proses pembelajaran pada anak, maka harus dilakukan sesuai dengan karakter si anak. Jika anak memiliki gaya belajar kinestesik, namun dipaksakan melakukan pembelajaran dengan cara visual, maka hasilnya tidak akan maksimal.
Hal itu dipaparkan oleh Drs. Y. Sugiarto, M.Pd, pemilik Bimbingan Belajar Tridaya saat bersilaturahmi ke redaksi Kabar Priangan, awal pekan kemarin.
Didampingi Dra. Chairida Herwati, M.Pd, Sugiarto menjelaskan bahwa setiap anak memiliki potensinya masing-masing. Begitupun potensi dalam belajar, masing-masing anak memiliki gaya belajar yang berbeda.
Sistem Pendekatan Individu
Memahami kondisi ini, maka kata Sugiarto, Bimbel Tridaya menerapkan Sistem Pendekatan Individu dalam proses belajar mengajarnya. “Proses belajar di kami, tentu berbeda dengan lainnya, termasuk juga dengan cara belajar di kelas,” kata dia.
Di Tridaya, kata dia, sebelum proses pembelajaran dimulai, para tutornya harus memahami karakter masing-masing siswa yang akan diajarnya. “Ini wajib, agar proses belajar bisa maksimal,” kata Sugiarto.
Bahkan tak hanya mendapatkan pembelajaran secara maksimal, tambah Chairida, dengan pendekatan individu ini, efeknya akan membuat motivasi belajar anak meningkat.
“Kalau motivasi belajar anak sudah kuat, mau nilai berapapun Insya Allah tercapai. Karena faktor penting dalam menggapai cita-cita adalah motivasi,” katanya.
Chairida lantas menjelaskan, proses observasi terhadap anak didik adalah faktor utama yang diberlakukan di Tridaya, sebelum lanjut ke proses pembelajaran.
“Jadi kalau ada anak yang mau belajar di sini, yang pertama dilakukan adalah melakukan psikotes terhadap anak. Kami sebut, psiducation,” katanya.
Melalui psikotes ini, lanjut Chairida, Tridaya akan memiliki data tentang potensi anak, gaya belajar, termasuk minat dan bakat si anak. “Dari data itu, baru kami menentukan bagaimana cara mendidik anak ini agar hasil belajarnya maksimal,” katanya.
Untuk memberikan pendidikan yang maksimal, lanjut dia, maka dalam satu rombongan belajar tidak boleh lebih dari lima orang. “Karena pendekatannya dilakukan secara individu, maka dalam satu grup belajar tidak boleh lebih dari lima siswa. Kalau lebih, tak akan maksimal belajarnya,” kata dia.
Dengan sistem pendekatan individu inipun, kata Chairida, para tutor dituntut memiliki kemampuan lebih dalam mendidik siswa.
“Karena yang dilakukan bukan hanya menyampaikan materi, tetapi yang paling utama adalah memotivasi anak-anak agar semangat belajar. Memotivasi anak-anak untuk menggapai cita-cita,” katanya.
Nah, lanjut dia, agar tutornya memiliki kemampuan lebih ini, Tridaya pun memberikan pelatihan dan bimbingan teknis kepada para tutornya secara periodik.
“Jadi untuk mencetak generasi yang siap bersaing di era global ini, kami pun menyiapkan tutor yang kompeten dan berkualitas,” pungkasnya.***