-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Minyak Jelantah Jangan Dibuang, Bisa Jadi Bahan Baku Avtur untuk Pesawat

Senin, 22 September 2025 | September 22, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-09-23T07:50:40Z
PIKIRAN RAKYAT - Minyak goreng yang sudah dipakai untuk menggoreng ayam, kentang, atau ikan di rumah atau di restoran. Biasanya, minyak bekas ini (minyak jelantah) akan dibuang begitu saja. Namun, PT Pertamina berhasil mengolah minyak jelantah ini di kilang khusus.

Minyak kotor itu diproses secara kimiawi, dimurnikan, sampai akhirnya jadi bahan bakar yang kualitasnya setara dengan avtur biasa. Bahan bakar hasil olahan inilah yang disebut SAF ( Sustainable Aviation Fuel ) atau Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan.

Pengembangan SAF Pertamina telah mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

Dari bahan dasar minyak jelantah itu, Pertamina berhasil membuat bahan bakar pesawat (avtur) dari minyak jelantah, dan pesawat Pelita Air sudah berhasil terbang dari Jakarta ke Bali pakai bahan bakar campuran itu.

Penerbangan komersial perdana ini dijalankan oleh maskapai Pelita Air, anak usaha Pertamina untuk rute Jakarta–Bali, sebagai bagian dari inisiatif uji coba dan peluncuran ekosistem bahan bakar ramah lingkungan di sektor aviasi nasional.

Ini adalah pertama kalinya di Indonesia ada penerbangan komersial yang menggunakan bahan bakar ramah lingkungan dari limbah.

Bahan dasar minyak jelantah lebih ramah lingkungan

Pesawat yang terbang pakai avtur biasa mengeluarkan banyak emisi karbon (asap/polusi) yang tidak baik untuk iklim. Bahan bakar dari minyak jelantah ini menghasilkan emisi yang jauh lebih sedikit. Jadi, ini adalah langkah untuk membuat penerbangan lebih "hijau".

Minyak jelantah yang tadinya dianggap sampah dan tidak berguna, sekarang punya nilai ekonomi. Bisa dikumpulkan, dijual ke Pertamina, dan diolah jadi produk mahal (bahan bakar pesawat). Hal ini yang disebut "ekonomi sirkuler", di mana tidak ada yang terbuang sia-sia.

Di Indonesia, banyak sekali rumah tangga dan restoran yang pakai minyak goreng. Artinya, "bahan baku" (minyak jelantah) untuk membuat SAF ini melimpah.

Pemerintah berharap Indonesia tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga bisa menjadi produsen dan penjual SAF utama di dunia. Kita bisa menjadi "hub" atau pusatnya.

Dapat Apresiasi

Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengapresiasi langkah Pertamina dalam menyelenggarakan kegiatan Special Flight dengan Pertamina Sustainability Aviation Fuel. Arif mengungkapkan Pertamina dan Indonesia memiliki potensi untuk menjadi leader SAF di dunia.

“Indonesia punya potensi untuk menjadi leadership dalam menggerakkan SAF. Ke depan kita sebagai penghasil SAF harus mampu menjadi hub dalam konteks marketing dan hub policynya. Dan ekspansi market ini tidak hanya di Pelita tapi juga domestik dan internasional,” ujar Arif dalam keterangan tertulis yang diterima Pikiran-rakyat.com, Kamis, 21 Agustus 2025.

Menurut Arif, penerbangan pesawat Pelita Air kali ini terasa spesial, karena menggunakan bahan bakar Pertamina Sustainable Aviation Fuel yang berbahan baku minyak jelantah. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon pada sektor penerbangan serta menggerakkan ekonomi sirkuler untuk transisi energi bersih.

Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Odo R.M. Manuhutu mengatakan, Indonesia memiliki keunggulan komparatif, yaitu ketersediaan bahan baku yang berlimpah termasuk Used Cooking Oil (UCO)/minyak jelantah.

“Penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF pada penerbangan uji coba ini tidak hanya menunjukkan komitmen transisi energi dan keberlanjutan tetapi juga circular economy, di mana limbah dari kegiatan masyarakat dapat memberikan nilai tambah,” jelas Odo pada kegiatan seremonial penerbangan perdana SAF di Jakarta (20/8/2025).***

×
Berita Terbaru Update