-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengenal Job Hugging Tren Baru di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Jumat, 12 September 2025 | September 12, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-09-12T22:05:36Z

SETELAH job hopping kini muncul job hugging , fenomena di mana para pekerja, terutama dari generasi muda, memilih untuk bertahan dengan pekerjaannya saat ini. Bukan karena merasa berkembang namun karena mereka takut tidak memiliki masa depan jika pindah pekerjaan.

Sedangkan job hopping yang sempat populer pada tahun 2021 dan 2022, pekerja memilih berpindah-pindah pekerjaan untuk mendapatkan kenaikan gaji yang signifikan.

Munculnya tren job hugging

Tren job hugging muncul saat pasar tenaga kerja memburuk dan bonus kenaikan gaji yang besar dari berpindah kerja tidak lagi mudah didapatkan. Dengan maraknya PHK massal, kenaikan harga, dan kondisi ekonomi yang tidak menentu, rasa cemas di tempat kerja meningkat drastis. Akibatnya, banyak pekerja merasa bahwa bertahan di posisi mereka saat ini lebih aman dan stabil daripada mengambil risiko untuk mencari peluang baru yang belum pasti.

Menurut Jennifer Schielke CEO Summit Group Solutions, job hugging menciptakan ilusi kesetiaan, padahal sebenarnya merupakan bentuk stagnasi. Jika para pemimpin menganggap rendahnya tingkat pergantian karyawan sebagai kesuksesan, mereka bisa kehilangan bakat-bakat terbaik saat pasar kerja kembali membaik.

"Laporan pekerjaan, keterbatasan anggaran, dan rasa takut yang terus-menerus merasuki ruang kerja kita, berpegang teguh pada apa yang kita miliki tampaknya merupakan langkah logis untuk mencapai stabilitas dan keamanan," ujarnya seperti dilansir dari Forbes .

Tanda job hugging

Schielke membagikan beberapa tanda job hugging di tempat kerja. Di antaranya peningkatan stres yang dapat memengaruhi perilaku atau suasana hati tim. Perubahan kinerja terjadi ketika seseorang berfokus pada area dalam peran yang mereka kuasai untuk menonjolkan kapabilitas mereka, alih-alih area kritis yang paling bermanfaat bagi seluruh tim atau inisiatif terpenting.

Karyawan bersemangat untuk membantu dalam peran atau peluang lain yang dapat bermanfaat bagi tim, jika mereka dapat melanjutkan posisi mereka sendiri dengan baik. Pekerja yang telah melampaui peran mereka saat ini, berada di posisi yang salah saat ini dalam karier mereka, dan berpegang teguh pada posisi tersebut karena ketakutan pasar.

Pemimpin perusahaan dapat memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan pengembangan, bimbingan dan pertumbuhan. Meski tidak berpindah pekerjaan, karyawan perlu bergerak maju. "Para pemimpin hebat akan menyadari bahwa stabilitas tidak sama dengan komitmen, dan memanfaatkan waktu ini untuk membangun budaya yang lebih kuat yang bertahan lebih lama dari pasar saat ini," ujar Schielke.

Sementara itu, Tara Ceranic Salinas profesor etika bisnis dan ketua departemen manajemen di Knauss School of Business University of San Diego, mengatakan para pemimpin perusahaan perlu menyadari bahwa ini adalah masa yang menantang bagi semua orang, dan mereka perlu bertindak.

"Perusahaan yang benar-benar ingin mendorong keterlibatan harus berinvestasi dalam budaya mereka dan memprioritaskan empati dan kemanusiaan di luar sekadar poin-poin pembicaraan," katanya.

MELIKA AYAZA

×
Berita Terbaru Update