-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Heboh! Ukraina Mulai Gunakan Kawanan Drone Berteknologi AI dalam Perang

Rabu, 03 September 2025 | September 03, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-09-04T07:45:33Z

Ukraina telah menjadi militer pertama dalam sejarah yang melakukan operasi di medan perang menggunakan kawanan drone yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI)

Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ) pada 2 September, perkembangan ini menandai fase baru dalam pengembangan peperangan udara tanpa awak, di mana sekelompok drone dapat berkoordinasi dan menyerang dengan pengawasan manusia yang terbatas.

Pasukan Ukraina menggunakan perangkat lunak yang dikembangkan oleh perusahaan AI lokal Swarmer, yang memungkinkan drone untuk berkomunikasi satu sama lain, mengidentifikasi target, dan beradaptasi di tengah misi.

Para analis mengatakan, misi-misi ini menandai penggunaan pertama teknologi kawanan drone dalam perang.

WSJ juga melaporkan, bahwa unit-unit Ukraina telah melakukan lebih dari seratus operasi kawanan drone berteknologi AI. Seorang perwira Ukraina mengonfirmasi, bahwa formasi umum melibatkan tiga drone, serta satu platform pengintaian, dan dua drone pengangkut bom kecil.

Setelah area target ditentukan, drone pengintai memetakan rute. Sementara drone penyerang memutuskan sendiri kapan dan bagaimana melepaskan muatannya. Pendekatan ini mengurangi jumlah operator yang dibutuhkan, yakni tiga personel, bukan sembilan personel dalam misi konvensional.

CEO Swarmer, Serhii Kupriienko, mengatakan kepada WSJ, bahwa sistem ini memungkinkan drone untuk menyesuaikan diri jika salah satu drone mengalami kegagalan, misalnya ketika baterai habis.

Ia mencatat, bahwa teknologi ini telah diuji coba pada 25 drone dan uji coba skala besar dengan jumlah kawanan yang melebihi 100 drone sedang direncanakan. Perusahaan ini, yang sebagian didanai oleh investor AS, awalnya menerapkan perangkat lunaknya untuk penambangan jarak jauh sebelum memperluasnya ke pengintaian dan serangan presisi.

WSJ juga mencatat, bahwa penggunaan kecerdasan buatan dalam pertempuran juga telah menimbulkan perdebatan etis. Kebijakan AS dan NATO saat ini mengharuskan pengambil keputusan manusia dalam apa yang disebut rantai pembunuhan, tetapi contoh Ukraina menunjukkan bagaimana AI semakin terintegrasi ke dalam koordinasi medan perang waktu nyata. Swarmer berpendapat, bahwa manusia masih mengotorisasi serangan terakhir.

Militer lain, termasuk AS, Tiongkok, Prancis, Rusia, dan Korea Selatan, sedang mengembangkan teknologi swarm, namun Ukraina tetap menjadi satu-satunya negara yang dikonfirmasi menggunakannya secara teratur dalam pertempuran.

Para ahli yang dikutip oleh WSJ menggarisbawahi, bahwa kerja sama tim otonom yang terbatas merupakan tonggak penting, sementara swarm skala penuh yang terdiri dari ratusan drone tetap menjadi tujuan masa depan.

Sebelumnya, Jenderal Alexus Grynkewich, Panglima Tertinggi Sekutu NATO di Eropa, mendesak perusahaan-perusahaan pertahanan untuk menguji teknologi mereka di Ukraina jika mereka ingin menjual ke NATO.

Ia menekankan, bahwa Ukraina menawarkan lingkungan pertempuran dunia nyata yang langka melawan musuh yang setara, dan meningatakan umpan balik dari pasukan Ukraina telah membentuk strategi pengadaan di masa depan di seluruh aliansi. (*)

×
Berita Terbaru Update