-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Labubu Baru Populer di Korea Selatan hingga Ada 7.000 Barang Palsu Disita dalam Dua Bulan

Kamis, 07 Agustus 2025 | Agustus 07, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-08-08T02:55:06Z

Berbeda dari Indonesia yang sudah tidak memburu Labubu, di Korea Selatan (Korsel) tren tersebut baru menjamur.

Lebih dari 7.000 barang palsu yang menampilkan Labubu, telah disita oleh otoritas bea cukai Korsel dalam dua bulan terakhir.

Penyelundupan Labubu palsu didorong dengan kepopuleran boneka tersebut secara global, dan meningkatnya permintaan di kalangan penggemar dan kolektor.

Menurut Layanan Bea Cukai Korea pada Rabu (6/8), barang-barang yang disita selama proses pemeriksaan bea cukai tidak hanya mainan berbulu, tetapi juga figur, gantungan kunci, dan casing smartphone.

Banyak produk palsu yang sangat mirip dengan barang dagangan resmi, sehingga sulit bagi konsumen rata-rata untuk membedakannya dari yang asli.

Dikutip dari Korea Time s, sebagian besar produk Labubu palsu dijual dengan harga kurang dari 10.000 won (sekitar Rp118 ribu), melalui pasar daring yang berbasis di Tiongkok.

Sebagai informasi, Labubu belakangan ini menjelma menjadi barang yang diincar dan trendi, terutama setelah para selebritis Korea Selatan dan luar negeri, yang mengunggah foto karakter tersebut di media sosial.

Karena permintaan yang tinggi dan keterbatasan pasokan, produk asli sering kali dijual kembali dengan harga yang melambung tinggi, yang memicu maraknya produk palsu.

"Untuk melindungi konsumen, kami berencana memperketat pemeriksaan bea cukai untuk barang-barang Labubu palsu," ujar seorang pejabat Bea Cukai Korea Selatan.

"Produk yang dijual dengan harga luar biasa murah dari penjual tidak resmi, kemungkinan besar palsu."

"Pembeli harus selalu memeriksa kredibilitas penjual dan harganya sebelum membeli."

Labubu awalnya dirancang pada tahun 2015 oleh seniman asal Hong Kong, yaitu Kasing Lung.

Kemudian Labubu dikomersialkan pada tahun 2019, setelah pengecer mainan asal Tiongkok Pop Mart memperoleh hak lisensi eksklusif. (*)

×
Berita Terbaru Update