- Penyerang sayap kanan Liverpool, Mohamed Salah kembali menorehkan prestasi yang luar biasa. Melalui ajang penghargaan PFA 2024/2025 yang digelar Selasa (19/8) malam waktu setempat, Salah keluar sebagai pemain terbaik.
Dalam penghargaan itu, pemain asal Mesir itu berhasil menyingkirkan nama besar pemain bola lain yang masuk nominasi, seperti Alexis Mac Allister (Liverpool), Cole Palmer (Chelsea), Bruno Fernandes (Manchester United), Declan Rice (Arsenal) dan Alexander Isak (Newcastle United).
Menariknya, ini bukan kali pertama pemain berjuluk The Egyptian King itu meraih predikat pemain terbaik di ajang penghargaan PFA. Mo Salah tercatat pernah memenangkan penghargaan yang sama di tahun 2018 dan 2022.
Pencapaian ini pun menjadikan Salah sebagai pemain pertama yang mendapatkan 3 piala Best Player of the Year versi The Professional Footballers’ Association (PFA).
Pencapaian luar biasa ini tentu tidak datang secara instan. Di balik trofi yang dikumpulkan, ada perjalanan karier panjang yang penuh dengan tantangan, kerja keras, dan tekad yang membentuk Mohamed Salah hingga dikenal sebagai The Egyptian King.
Dari Klub Mesir, ke Sepak Bola Eropa
Mohamed Salah Hamed Ghaly atau yang umum disapa sebagai Mo Salah adalah pemain bola berdarah Mesir yang lahir di Nagrig, Basyoun pada 15 Juni 1992.
Dikutip dari transfermarkt, Salah memulai kariernya sebagai pesepak bola dengan bergabung bersama tim sepak bola lokal Mesir, El Mokawloon pada tahun 2012 saat berusia 20 tahun.
Bersama klub lokal tersebut, Mo Salah tampil dalam 45 laga dan berhasil mencetak 12 gol serta 6 assist.
Nama Mohamed Salah mulai mencuri perhatian kala dirinya pindah dari klub lokal Mesir ke FC Basel 1893 pada tahun 2013. Melalui penampilannya di klub Swiss itu, Salah berhasil mencetak 20 gol dan 14 assist.
Prestasi ini yang kemudian mengantarkan nama Salah ke ajang sepak bola Eropa. Pada tahun 2014, Chelsea tertarik untuk meminang The Egyptian King dari FC Basel 1893. Dikutip dari theguardian, Chelsea menyiapkan mahar senilai 16 juta Euro untuk meminang Salah.
Menariknya, Liverpool sebenarnya sudah hampir membawa Salah ke Anfield. Sebelum Chelsea resmi mendatangkan Salah, The Reds sudah menunjukkan ketertarikannya pada tahun 2014.
Dikutip dari thisisanfield, Salah sudah ingin pergi ke Liverpool tetapi membatalkan pilihannnya kala pelatih Chelsea, Jose Mourinho menghubungi dan meyakinkan dirinya untuk pindah ke Stamford Bridge.
Namun, perjalanan kariernya di The Blues tidak berjalan secara mulus. Keterbatasan kesempatan bermain yang diberikan, membuat Salah harus rela untuk beberapa kali dipinjamkan ke klub Italia, yaitu Fiorentina dan AS Roma.
Meski penampilannya di Fiorentina kurang memukau, Salah berhasil tampil secara gemilang di AS Roma. Lewat 83 pertandingan, ia mampu mencetak 34 gol dan 21 assist serta berhasil membantu AS Roma mendapatkan posisi runner-up di Serie A.
Hasil Kerja Keras, Akhirnya Terbayar Bersama The Reds
Chelsea, Fiorentina, dan AS Roma masih belum menjadi tempat di mana Salah mencapai potensi terbaiknya. The Egyptian King berhasil mencapai puncak karier kala dirinya dipinang Liverpool pada tahun 2017.
Hal ini dibuktikan dengan penampilan gemilang Salah saat musim pertamanya bersama klub bola yang saat itu diasuh oleh Jurgen Klopp. Dari 38 pertandingan, pesepak bola kelahiran 1992 itu berhasil mencetak 32 gol.
Kontribusi The Egyptian King untuk The Reds terus memainkan posisi penting hingga akhirnya berhasil membawa Liverpool memenangkan satu UEFA Champions League pada musim 2018-2019 dan dua gelar Liga Inggris pada musim 2024-2025 serta 2019-2020.
Setelah bergabung sejak 2017, Mo Salah berhasil mencetak 246 gol dan 113 assist melalui 403 penampilannya.
Hal ini membuat Salah berhasil mendapatkan berbagai penghargaan, seperti Pemain Afrika Terbaik, Pencetak Gol Terbanyak di Liga Inggris, dan Pemain Terbaik versi PFA.