-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dari Pesantren ke Medan Perang, Kiai Abbas Buntet Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Kamis, 21 Agustus 2025 | Agustus 21, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-08-22T06:30:48Z
KH Abbas Abdul Jamil, sosok ulama asal Buntet Pesantren Cirebon mendapat perhatian dalam acara bedah buku bertajuk "Dari Pesantren ke Medan Perang: Kiprah Kiai Abbas Buntet dalam Revolusi Surabaya 1945" yang digelar di Kampus UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Kamis (21/8/2025).

Buku karya Prof Usep Abdul Matin ini mengupas perjalanan hidup Kiai Abbas mulai dari pendidikan, latar belakang keluarganya, hingga peran heroiknya dalam pertempuran 10 November 1945.

Melalui narasi sejarah yang kaya, buku ini juga memperlihatkan bagai mana pesantren dan rakyat sipil turut menjadi motor perjuangan kemerdekaan RI.

"Bedah buku ini adalah penegasan dari apresiasi dan keinginan kuat masyarakat, khususnya kalangan akademik, untuk memperkuat pengusulan KH Abbas sebagai calon pahlawan nasional. Beliau sudah memenuhi syarat dan sangat layak ditetapkan pada tahun 2025 ini," ujar Prof Usep.

Menurutnya, nilai perjuangan Kiai Abbas tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga menjadi kelanjutan dari tradisi perlawanan Cirebon sejak era kerajaan.

"Beliau adalah orang yang menaklukkan penjajah sekaligus membebaskan bangsa dari belenggu kolonial," tuturnya.

Penggagas pengusulan Kiai Abbas sebagai Pahlawan Nasional, Prof KH Asep Saifudin Chalim menjelaskan, beliau bukan sekadar ulama pengajar, melainkan panglima yang ikut bertempur.

"Kiai Abbas Abdul Jamil Buntet bukan hanya tokoh agama, tetapi ulama pejuang yang mengukir sejarah. Beliau menggugah perlawanan lewat resolusi jihad sekaligus turun langsung ke medan tempur," jelasnya.

Sementara itu Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof H Aan Jaelani menyebut, momen bedah buku ini membawa berkah sekaligus motivasi bagi civitas akademika.

"Peristiwa 10 November 1945 tidak bisa dilepaskan dari peran KH Abbas. Beliau mengintegrasikan pendidikan agama dan umum, itu yang membuatnya layak ditetapkan sebagai pahlawan nasional," ucapnya.

Selain itu, dukungan juga datang dari keluarga besar Kiai Abbas. Cicitnya, KH Mustahdi Abdullah Abbas menilai, gelar pahlawan nasional bukan untuk kepentingan pribadi leluhurnya, melainkan warisan penting bagi bangsa.

"Gelar itu tidak penting bagi sosok Kiai Abbas, tapi penting bagi generasi bangsa untuk merawat spirit dan menumbuhkan sikap kebangsaan," katanya.

Penjabat Ketua YLPI Buntet Pesantren, KH Aris Ni’matullah mengungkapkan, perjuangan Kiai Abbas lahir dari keikhlasan.

"Kiai Abbas sendiri tidak berkenan dengan gelar pahlawan. Seperti orang tua yang memberikan jiwa raganya untuk anak, beliau tidak mengharap balasan. Tapi sebagai santri, kami ingin menempatkan beliau pada posisi yang sebenarnya," ungkapnya.

Kiai Aris menambahkan, keberangkatan Kiai Abbas ke Surabaya pada 1945 adalah bukti nyata keberpihakan pada kemerdekaan.

"Meskipun jaraknya jauh, beliau tetap berangkat. Ini bukan soal sunah atau kifayah, tapi soal penjajahan yang harus hengkang dari Nusantara," tambahnya.

Acara bedah buku ini dihadiri akademisi, ulama, santri, dan tokoh masyarakat. Semua berharap langkah ini mengantarkan KH Abbas Abdul Jamil Buntet sebagai Pahlawan Nasional dari Cirebon.

KH Abbas Abdul Jamil Buntet Pesantren bukan sekadar tokoh agama, tetapi juga ulama pejuang yang mengukir sejarah dalam pertempuran heroik Surabaya 1945.***

×
Berita Terbaru Update