-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tanda-tanda Kehidupan Alien di Eksoplanet K2-18b Melemah

Rabu, 30 Juli 2025 | Juli 30, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-08-01T07:00:20Z

, Jakarta - Harapan akan ditemukannya tanda-tanda kehidupan di eksoplanet K2-18b semakin memudar. Pengamatan terbaru menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) menunjukkan tidak adanya bukti kuat keberadaan molekul yang sebelumnya disebut sebagai indikasi kehidupan.

Pada April lalu, Nikku Madhusudhan dari Universitas Cambridge dan timnya melaporkan adanya indikasi molekul dimetil sulfida (DMS) dan dimetil disulfida (DMDS) di atmosfer K2-18b. Di Bumi, kedua molekul ini hanya diproduksi oleh kehidupan. Saat itu Madhusudhan menyebut temuan itu sebagai 'petunjuk pertama yang kita lihat dari dunia alien yang mungkin dihuni'.

Namun, analisis ulang data yang sama oleh tim peneliti lain dengan model statistik berbeda tidak menemukan bukti kuat keberadaan molekul tersebut. Madhusudhan dan timnya juga melakukan analisis lebih mendalam, yang menurutnya membuat ia lebih yakin bahwa DMS adalah penjelasan terbaik untuk data tersebut.

Renyu Hu dari California Institute of Technology bersama Madhusudhan kemudian menganalisis pengamatan baru JWST terhadap K2-18b. Hasilnya kembali menunjukkan ketiadaan bukti statistik yang memadai. “Makalah ini tidak memberikan bukti konklusif untuk keberadaan molekul ini di atmosfer,” kata Hu, dikutip dari laporan New Scientist , 28 Juli 2025.

Pengamatan kali ini menggunakan kamera inframerah-dekat JWST untuk mempelajari cahaya dari bintang K2-18b yang melewati atmosfer planet. Beberapa model atmosfer yang memasukkan DMS memang dapat menjelaskan data sedikit lebih baik dibandingkan model tanpa DMS, namun bukti statistiknya tetap lemah. “Ketergantungan pada model ini menunjukkan bahwa sinyalnya sangat lemah, jika memang ada sinyal sama sekali,” kata Hu. “Saya hanya akan berhati-hati.”

Madhusudhan mengakui bukti yang ada belum cukup untuk menyatakan adanya deteksi DMS. Namun, ia menyebut ada alasan untuk membandingkan data terbaru dengan pengamatan JWST pada 2023, bukan data inframerah-tengah yang digunakan April lalu. “Secara statistik murni, berdasarkan apa yang kami laporkan dalam makalah, datanya secara objektif menunjukkan bukti yang sedikit lebih tinggi untuk DMS,” kata Madhusudhan.

“Masih bisa jadi ada molekul lain yang menyerupai DMS,” ujarnya menambahkan. “Namun kita jelas masih belum bisa membuat klaim yang kuat.”

“Makalah ini sangat jelas menyatakan bahwa tidak ada bukti untuk dimetil sulfida. Tidak ada bukti statistik untuk gas-gas tersebut,” kata Luis Welbanks dari Arizona State University. Hal serupa disampaikan Sara Seager dari Massachusetts Institute of Technology yang mengatakan bahwa tingkat signifikansi statistik yang dilaporkan tim tidak dapat dianggap sebagai deteksi.

Jake Taylor dari Universitas Oxford menilai, “Kita tampaknya sampai pada akhir perdebatan tentang apakah DMS terdeteksi pada tingkat yang dapat diukur di atmosfer [K2-18b], karena peningkatan presisi tidak membantu mendeteksinya dengan signifikansi yang lebih tinggi.”

Dalam penelitian terbaru ini, Hu dan timnya juga menemukan bahwa pada atmosfer kaya hidrogen seperti K2-18b, terdapat jalur kimia yang memungkinkan pembentukan DMS tanpa adanya kehidupan. “Ini membantu kita mempersempit molekul mana yang bisa secara eksklusif menjadi biosignature di atmosfer eksoplanet, dan tampaknya model ini menyingkirkan DMS sebagai biosignature eksklusif,” kata Taylor.

Meski demikian, para ilmuwan sepakat bahwa K2-18b memiliki kandungan air yang melimpah. Hu dan timnya menemukan bukti kuat adanya metana dan karbon dioksida yang mengindikasikan keberadaan air. Namun, hingga kini belum dapat dipastikan apakah air tersebut berada dalam bentuk lautan, uap di atmosfer, atau terperangkap di interior planet.

×
Berita Terbaru Update