-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Soal Kasus Beras Oplosan, Legislator PKS Bicara Penguatan BUMN Pangan

Senin, 14 Juli 2025 | Juli 14, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-14T23:50:55Z

, JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI Riyono menyebut fenomena beras oplosan seperti diungkap Satgas Pangan menunjukkan lemahnya tata kelola sektor perberasan nasional.

Hal demikian dikatakan Caping sapaan Riyono menyusul temuan Satgas Pangan terkait 212 perusahaan yang diduga bertanggung jawab atas kerugian konsumen senilai Rp3,2 triliun akibat praktik pengoplosan beras.

Riyono menyerukan negara bisa hadir secara penuh dalam pengelolaan beras. Setidaknya, menguasai 20 persen komoditas dari hulu ke hilir.

“Negara tidak boleh hanya menjadi penonton. Minimal negara harus mengendalikan 20 persen hingga 50 persen dari pasar beras, agar distribusi dan tata niaga tidak dikuasai oleh segelintir pemain swasta,” kata dia dalam keterangan persnya, Senin (14/7).

Legislator Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengatakan negara ke depan perlu memperkuat kehadiran BUMN pangan menyikapi fenomena beras oplosan.

Caping menilai Satgas Pangan akan kewalahan bila negara tidak membenahi regulasi dan membentuk BUMN pangan yang kuat.

"Ini adalah solusi jangka panjang untuk mencegah praktik curang dan memastikan kesejahteraan petani serta keadilan bagi konsumen,” katanya.

Caping menilai praktik oplos beras selain merugikan konsumen, berpotensi merusak kredibilitas gabah nasional dari petani.

Menurutnya, konsumen bisa saja tidak percaya hasil gabah nasional setelah aksi culas mengoblos beras.

“Ini sangat merusak. Tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga menciderai perjuangan petani yang sudah menghasilkan beras berkualitas tinggi musim ini,” ujarnya.

Menurut Caping, keberhasilan petani dalam meningkatkan produksi nasional seharusnya dihargai dan dilindungi

"Petani layak mendapat reward atas capaian produksinya. Harga yang baik untuk Gabah Kering Panen (GKP), Gabah Kering Giling (GKG), dan beras di pasar akan menjadi puncak kebahagiaan mereka,” lanjut dia.

Caping menyatakan bahwa sebenarnya beras petani lokal memiliki kualitas premium yang alami dan cocok dengan lidah masyarakat Indonesia.

“Beras dari petani kita itu enak, cocok dengan lidah masyarakat Indonesia, dan masih sangat terjangkau di pasaran," kata dia. (ast/jpnn)
×
Berita Terbaru Update