-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sirnanya Sinar Pasar Ular Tanjung Priok, Kian Sepi Pembeli sejak Pandemi

Kamis, 10 Juli 2025 | Juli 10, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-11T10:20:28Z

JAKARTA, - Pasar Ular di Tanjung Priok, Jakarta Utara, sepi pembeli selama lima tahun terakhir. Pasar ini terus kehilangan pelanggannya sejak pandemi Covid-19 pada awal 2020 lalu.

Pengamatan di lokasi, Kamis (10/7/2025), pasar ini terbagi menjadi dua blok di sisi kiri dan kanan yang dibatasi oleh Jalan Kebon Bawang 5.

Di area samping, didominasi oleh toko-toko keramik yang menjadi ikon pasar ini.

Sedangkan di area depan mayoritas berjajar toko yang menjajakan beragam tas bekas maupun baru yang dipajang di etalase kaca.

Tak hanya itu, para pedagang Pasar Ular di Tanjung Priok juga menjajakan pakaian, sepatu, aksesoris, barang antik, hingga kaligrafi.

Sempat jadi primadona, kini banyak toko yang rolling door- nya tertutup rapat dan tidak pernah buka lagi.

Para pedagang yang masih bertahan pun tak banyak beraktivitas karena toko terlihat lengang dan minim pembeli.

Meski begitu, para pedagang terlihat sabar dan selalu menyapa segelintir pengunjung dengan kalimat andalan, "Boleh, lagi cari apa?".

Mei (48), salah satu pedagang tas dan sepatu yang sudah berjualan selama 10 tahun mengeluhkan kondisi Pasar Ular yang semakin hari kian sepi pengunjung.

"Udah sepi pembeli dan sepi pengunjungnya juga semenjak Covid-19 lah," ucap Mei.

Mei bilang, semula ada sekitar 200-an toko di pasar ini. Namun, kini hampir 30 persen toko tutup permanen.

"Udah banyak yang tutup juga, sekitar 30 persenan," ucap Mei.

Sebelum pandemi Covid-19, Mei dan pedagang Pasar Ular lainnya bisa mengantongi Rp 15 juta dalam seminggu. Namun, kini pendapatannya turun drastis.

"Kalau sekarang setelah Covid-19 seminggu Rp 2 juta syukur, kadang tiga hari enggak ada penglaris," tutur dia.

Mei bercerita, dahulu banyak pengunjung Pasar Ular dari kalangan artis ibu kota. Mereka banyak berburu keramik.

Selain itu, pelanggan Mei datang dari berbagai daerah, bahkan luar Pulau Jawa seperti Kalimantan. Ia tak tahu menahu ke mana perginya para pelanggan itu.

"Harapannya kembali ke semula ramai lagi. Karena ramainya itu dulu di tahun 2017 hingga 2018," kata dia.

×
Berita Terbaru Update