-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ada Kesenjangan Ekspektasi Masyarakat dan Arah Riset

Kamis, 31 Juli 2025 | Juli 31, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-08-01T07:20:19Z

KORAN - PIKIRAN RAKYAT - Kepercayaan publik Indonesia terhadap ilmuwan tergolong tinggi secara global. Namun, ­kepercayaan tersebut belum sepenuhnya ­diimbangi dengan partisipasi dan pemanfaatan hasil riset secara luas di masyarakat.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Tek­nologi, Kementerian Pendi­dik­an Tinggi, Sains, dan Tek­nologi (Kemendiktisaintek), Yudi Darma, mengatakan, berdasarkan studi Nature Hu­man Behaviour pada ta­hun 2025, skor kepercayaan publik Indonesia terhadap ilmuwan mencapai 3,84 dari skala 5. "Ini lebih tinggi dari rata-rata global yang hanya 3,62,” kata Yudi, Kamis 31 Juli 2025.

Menurutnya, capaian ter­se­but menggembirakan, te­ta­pi sekaligus mengandung tan­tangan besar. “Keperca­ya­an tanpa partisipasi yang ber­makna belum cukup menja­min keterlibatan masyara­kat dalam agenda sains dan kebijakan berbasis bukti,” ujar­nya.

Yudi mengatakan, masih ada kesenjangan antara eks­pektasi masyarakat dan arah riset yang dikembangkan. Mi­­salnya, publik menaruh per­hatian pada isu-isu seperti kemiskinan, energi, dan ke­se­hatan, tetapi belum merasa suara mereka cukup dide­ngar oleh komunitas ilmiah. Skor keterbukaan ilmuwan terhadap umpan balik publik juga masih rendah, yakni 3,33.

“Jika kepercayaan ini tidak direspon dengan transparansi, dialog, dan relevansi, ada risiko berubah menjadi skeptisisme, apalagi di tengah maraknya misinformasi,” ka­ta­nya.

Yudi mengatakan, pihak­nya berupaya memperkuat hubungan antara sains dan masyarakat. Melalui program Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Sains Teknologi Nusantara (Semesta), dibuat sejumlah ini­siatif yang menargetkan pe­ningkatan literasi, pemaham­an, dan keterlibatan publik terhadap sains. Rencananya program itu akan dijalankan mulai 1 Agustus 2025.

“Kami mendorong agar sains tidak hanya berhenti di laboratorium atau jurnal il­miah, tetapi benar-benar ha­dir di ruang publik, dipahami, dimanfaatkan, dan dira­sa­kan langsung oleh masya­rakat,” kata Yudi.

Indikator

Sebelumnya, sejumlah indikator menunjukkan ekosistem sains dan teknologi di Indonesia masih belum ber­tumbuh optimal. Indikator tersebut meliputi rendahnya minat numerasi hingga ke­timpangan dalam peminatan prodi saintek di pendidikan tinggi.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menyoroti masih le­mahnya peran asosiasi keilmuan di Indonesia karena banyak yang tidak aktif. Hal tersebut membuat asosiasi ke­ilmuan kehilangan fungsi utamanya sebagai motor penggerak diskursus dan per­kembangan keilmuan.

“Asosiasi keilmuan kita se­perti Ikatan Insinyur Indonesia atau Masyarakat Linguistik Indonesia banyak yang ti­dak hidup dan tidak mati. Pa­­dahal, di negara lain, asosiasi semacam ini rutin meng­ada­kan konferensi ilmiah,” ujar­nya, Selasa 27 Mei 2025.

Asosiasi keilmuan idealnya menjadi rujukan dalam ber­bagai pengambilan keputus­an akademik, termasuk da­lam pengangkatan profesor dan pengembangan jurnal il­miah.

Namun, di Indonesia, aso­siasi ini justru kadang terse­ret ke dalam urusan politik yang tidak relevan dengan penguatan keilmuan. Akibatnya, forum akademik dan publikasi ilmiah tidak ber­kembang secara optimal. Ren­dahnya minat masy­a­ra­kat terhadap sumber pe­nge­tahuan, seperti perpusta­kaan dan jurnal ilmiah, turut ber­kontribusi terhadap le­mah­nya ekosistem riset. “Per­pustakaan belum menjadi tempat yang diminati ma­syarakat,” ucap Najib.***

×
Berita Terbaru Update