KORAN - PIKIRAN RAKYAT - Kepercayaan publik Indonesia terhadap ilmuwan tergolong tinggi secara global. Namun, kepercayaan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan partisipasi dan pemanfaatan hasil riset secara luas di masyarakat.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Yudi Darma, mengatakan, berdasarkan studi Nature Human Behaviour pada tahun 2025, skor kepercayaan publik Indonesia terhadap ilmuwan mencapai 3,84 dari skala 5. "Ini lebih tinggi dari rata-rata global yang hanya 3,62,” kata Yudi, Kamis 31 Juli 2025.
Menurutnya, capaian tersebut menggembirakan, tetapi sekaligus mengandung tantangan besar. “Kepercayaan tanpa partisipasi yang bermakna belum cukup menjamin keterlibatan masyarakat dalam agenda sains dan kebijakan berbasis bukti,” ujarnya.
Yudi mengatakan, masih ada kesenjangan antara ekspektasi masyarakat dan arah riset yang dikembangkan. Misalnya, publik menaruh perhatian pada isu-isu seperti kemiskinan, energi, dan kesehatan, tetapi belum merasa suara mereka cukup didengar oleh komunitas ilmiah. Skor keterbukaan ilmuwan terhadap umpan balik publik juga masih rendah, yakni 3,33.
“Jika kepercayaan ini tidak direspon dengan transparansi, dialog, dan relevansi, ada risiko berubah menjadi skeptisisme, apalagi di tengah maraknya misinformasi,” katanya.
Yudi mengatakan, pihaknya berupaya memperkuat hubungan antara sains dan masyarakat. Melalui program Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Sains Teknologi Nusantara (Semesta), dibuat sejumlah inisiatif yang menargetkan peningkatan literasi, pemahaman, dan keterlibatan publik terhadap sains. Rencananya program itu akan dijalankan mulai 1 Agustus 2025.
“Kami mendorong agar sains tidak hanya berhenti di laboratorium atau jurnal ilmiah, tetapi benar-benar hadir di ruang publik, dipahami, dimanfaatkan, dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Yudi.
Indikator
Sebelumnya, sejumlah indikator menunjukkan ekosistem sains dan teknologi di Indonesia masih belum bertumbuh optimal. Indikator tersebut meliputi rendahnya minat numerasi hingga ketimpangan dalam peminatan prodi saintek di pendidikan tinggi.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menyoroti masih lemahnya peran asosiasi keilmuan di Indonesia karena banyak yang tidak aktif. Hal tersebut membuat asosiasi keilmuan kehilangan fungsi utamanya sebagai motor penggerak diskursus dan perkembangan keilmuan.
“Asosiasi keilmuan kita seperti Ikatan Insinyur Indonesia atau Masyarakat Linguistik Indonesia banyak yang tidak hidup dan tidak mati. Padahal, di negara lain, asosiasi semacam ini rutin mengadakan konferensi ilmiah,” ujarnya, Selasa 27 Mei 2025.
Asosiasi keilmuan idealnya menjadi rujukan dalam berbagai pengambilan keputusan akademik, termasuk dalam pengangkatan profesor dan pengembangan jurnal ilmiah.
Namun, di Indonesia, asosiasi ini justru kadang terseret ke dalam urusan politik yang tidak relevan dengan penguatan keilmuan. Akibatnya, forum akademik dan publikasi ilmiah tidak berkembang secara optimal. Rendahnya minat masyarakat terhadap sumber pengetahuan, seperti perpustakaan dan jurnal ilmiah, turut berkontribusi terhadap lemahnya ekosistem riset. “Perpustakaan belum menjadi tempat yang diminati masyarakat,” ucap Najib.***