BOLTIM Pikiran Rakyat -
Di tengah hari yang menguap pelan,
aku duduk bersama secangkir kenangan.
Asap kopi menari di udara tenang,
mengajak pikiranku melayang pulang.
Tak ada angin, hanya detik yang lambat,
dan rasa pahit yang tetap hangat.
Seperti rindu yang tak sempat tuntas,
kopi ini pun terseduh dalam diam yang malas.
Matahari tinggi, bayang-bayang pun pendek,
namun ingatan padamu tetap lekat dan pekat.
Setiap tegukan mengajak mengingat,
tentang obrolan yang kini cuma hangat lewat jejak.
Kopi siang ini,
bukan sekadar minuman—
ia pelipur, ia pengingat,
bahwa tak semua yang pahit harus dihindari.***